socialite goes to village (1)

October 8th, 2007 by zakajekjon

lebaran sudah dekat..Socialite1

Akhirnya kami, gerombolan urbanistis (urbanis kritis)–para buruh (pikir) kasar– sepakat pulang ke rumah tercinta di desa Sukamulya. Desa yang berjarak 25km dari kota Bandung. Tak banyak persiapan untuk mudik kali ini. Yang berbeda hanya tas-tas baru yang masih harum kain kanvas. Sebagian harum yang setengahnya mirip dengan "harum" asap polusi pabrik saat melewati pabrik-pabrik tekstil  yang berjajar di perjalanan menuju desa, namun ditambah sedikit H2S (aroma buang angin), hingga hidung dan mulut terasa berdebat dengan keadaan itu.Haha.

Perjalanan kali ini sungguh menyenangkan. Kami berlima, Nodi, Putra, Mika, dan Asep saling mengingat kejadian-kejadian masalalu ketika masih sekolah bersama di desa. Kami ingat jalan ke sekolah kami yang harus ditempuh melewati pematang-pematang sawah. Ada saja hal lucu yang terjadi bila pergi ke sekolah maupun pulang ke rumah.Paling sering ya pasti menginjak kotoran, kotoran dari pelbagai macam makhluk, dari makhluk yang dianggap paling rendah, yaitu cacing hingga makhluk yang dianggap paling tinggi derajatnya, ya manusia….

Kami semakin tertawa ketika membandingkan manfaat tai dari masing-masing makhluk tadi…cacing sebagai makhluk yang sederhana mengeluarkan tai yang setara dengan humus, tai yang sangat bermanfaat tentunya bagi kesuburan tanah. Sedangkan manusia sebagai makhluk tingkat tertinggi malah mengeluarkan tai yang lebih banyak unsur "ekspresif,dan mencari perhatian", dengan baunya yang seolah mencari perhatian hidung… kami terbahak mengingatnya…

Hmmm…perjalanan mudik kali ini persis seperti saat pulang dari sekolah, menuntut ilmu di jaman kecil dulu. Pulang sekolah, yang teringat diotak bukanlah pelajaran-pelajaran dari pak guru. Yang teringat malah ocehan pak Guru yang marah  saat ada teman sekelas yang tak bisa pakai sepatu karena tercebur ke sawah. Kami geli mengingat kata-kata pak Guru, "Lain kali sepatunya dipakai di sekolah saja, bila pulang Kau bungkus pake plastik kresek,lalu kau bawa tinggi-tinggi"….

Bila sepatu dipakai hanya untuk menciptakan "image" bahwa kita "nyakola"…yah…bisa jadi otak hanya alas agar ego  bisa "mengekspresikan gaya anak nyakola"…gak penting…<-hehe..umpatanjaman sekarang…

Ucapan pak Guru  malah membuat kami malas mendengarkan kata-kata pelajaran sekolah yang diucapkan oleh mulutnya. Pelajaran sekolah seolah hanya menjadi basa-basi.

Perjalanan pulang sekolah lah yang malah banyak memberi pelajaran pada kami. Hal-hal baru di perjalanan membuat kami penasaran. Seperti ketika kami berdebat  menemukan binatang yang mirip belut. Nodi dan putra yakin itu ular, bukan belut. Sebaliknya Mika dan Asep yakin itu belut. Perdebatan tidak berlangsung lama saat binatang  itu bergerak. Belut bergerak meluncur lurus, ular bergerak meliuk-liuk. Liukan ular sangat khas, gerakan yang mengundang orang untuk menyentuh, lalu kemudian dipatuknya. Kami pernah mendengar kisah liukan ular itu, dari seorang petani yang dipatuk ular lalu terkapar di genangan sawah. Untung pak tani itu selamat, karena ular sawah tak begitu berbisa. Dia hanya mengalami sedikit kram. Satu hal yang pak tani itu ingat, "hati-hati dengan liukan ular yang memutar".

Liukan ular yang memutar, sebuah perilaku ular yang banyak diadopsi oleh pekerja-pekerja ibukota. Berusaha bergerak indah agar umpannya tertarik untuk menyodorkan sisi lemah tubuhnya…dan "snap!"…si korban pun disengat hingga keram tak berdaya…..hehe….Kami terbahak-bahak lagi membahas imajinasi dan ingatan yang berlebihan ini…

Pulang dari sekolah, dan pulang dari kota…sama-sama melepas ketegangan otak….saat inilah nilai perjalanan terasa begitu mahal…lebih mahal dari kumpulan pundi-pundi uang dan hapalan-hapalan yang diraih di kota maupun di sekolah..

Pelajaran saat perjalanan pulang…adalah pelajaran sesungguhnya…
perjalanan saat menemukan pelajaran dan makna, dengan melepas semua beban di otak…adalah perjalanan yang sesungguhnya…

<a href="http://www.pestablogger.com"><img src="http://www.pestablogger.com/wp-content/uploads/2007/09/button-pb-006.jpg" alt="Pesta Blogger 2007" style="border-style: none" /></a>

Dan Semua Ternyata Bergerak

August 1st, 2007 by zakajekjon

Boylitucing
aku kira hari kemarin adalah halaman belakang rumahku..
aku kira hari esok adalah pintu gerbang di depan rumahku…
dan hari ini adalah sebuah ruangan dengan sekat-sekat yang melingkupi..

namun ternyata sangkaanku hanya membuat diri semakin terpuruk dalam kekakuan.. kekakuan rasa dan kekakuan fikir
ingin kubongkar dinding dinding ruangan yang melingkupi di hari ini
ingin kulihat semua sekat hilang
sehingga kemarin,sekarang, dan esok bersatu…

indahnya hidup yang dilingkupi pemandangan yang luas dan terang
semua terasa lega..semua terasa bebas bergerak…
angin bergerak, rumput bergoyang, awan-awan berarakan
dan mungkin gunung pun bergerak perlahan…menyongsong senja..
waktu berjalan sempurna

malam datang…daya pandang pun menjadi terhalang
teringat lagi akan rasa tertekan saat hidup di ruang yang sempit
waktu serasa tak berjalan, sesuatu berasa tak memiliki makna..selain makna ketiadaan itu sendiri…
masing-masing benda seakan tak peduli dan sering tak melihat yang lain..
masing-masing fokus atas dirinya sendiri..
dan dari dalam lubuk hatinya..
mereka sebenarnya berharap…kapan terang akan datang lagi…cahaya remang subuh pun cukup untuk membuat bahagia…karena seolah menjadi pertanda kebebasan…

andaikan kita tak lagi berfikir kenapa kita harus berbeda….
andaikan kita tak lagi berfikir mengapa kita harus merasa sedih…
andaikan kita tak lagi berfikir mengapa kita diciptakan…
karena itu mungkin adalah sebuah pikiran buntu, yang tercetus dalam kegelapan..
pikiran-pikiran yang memaknai diri dengan ketiadaan…
padahal hak kita untuk menikmati ada…hak kita untuk menikmati perubahan…hak kita untuk merasakan perbedaan yang memberi arti…
hak kita untuk terus berjalan…
bahkan angin yang tak terlihat pun berjalan,
bahkan gelap pun sebenarnya menunjukkan dirinya…..

tak ada yang diam….tak ada yang tak melakukan apa-apa….

biarkanlah yang ada di diri kita memiliki bentuk dan memiliki makna
biarkanlah yang ada di sekitar kita menilai apapun tentang kita.

..karena itu sebagian dari makna diri kita…
baik,buruk,pahit, manis..hanyalah sebuah pergerakan rasa….dan rasa pun punya hak untuk ada….

Ketika Nafas Mulai Berhembus…

May 23rd, 2007 by zakajekjon

Sunshineinwindfall

Jam 00.00 lewat 10 detik…
Secangkir kopi hangat terlihat mengeluarkan asap…
Bersit suara jangkrik terdengar sayup-sayup lirih…

Kuhirup nafas dalam-dalam, tanda mulainya sebuah pekerjaan baru…
mulai kutulis sedikit kata-kata baru dalam file words berjudul "SOLUSI BERSAMA", yang sebenarnya telah ku-save selama 4 bulan belakangan ini, namun hanya berupa judul, tanpa isi…

Detik ini kumulai lagi..
sebuah usaha kecil yang kuberi nama ‘mencari arti baru’…
mencari arti baru dari setiap indra yang kurasa..
mencari pemaknaan dari setiap kejadian…yang ternyata.. sempat membuat tangan membeku untuk menulis…. jari terlalu berat untuk hanya digerakkan memencet huruf-huruf penyusun makna….

"SOLUSI BERSAMA", judul yang kutulis beberapa bulan lalu, terasa berat untuk dijabarkan dalam kata-kata, karena memikirkan judul itu membuatku seolah terkubur dalam sebuah aliran ide dan usulan solusi yang tak henti..seolah semua  ide dan usulan harus diambil agar mencapai hasil…hasil yang membuatku puas…dan keterkuburanku membuat waktu terasa seperti angin puting beliung yang menerbangkanku ke ribuan pandangan yang tak sempat kupahami….

"Tak Harus Selalu Sama"….
Tema itu yang kurasakan ketika aku memberanikan diri melanjutkan jabaran judul "SOLUSI BERSAMA" … judul itu seolah kujadikan lawan berfikirku ketika menulis….aku tak harus sama agar bisa menghasilkan sesuatu…kadang aku harus dalam posisi yang berseberangan untuk mencapai tujuan bersama…Kontradiksi seringkali menghasilkan solusi keseimbangan di sebuah realita….

Ketidaksamaan menggiringku ke dalam sebuah pengakuan…bahwa perdamaian dikala kita membutuhkan ide baru sangatlah tabu untuk dijadikan pilihan……proses yang baik adalah benturan…
seolah benturan tempa tukang besi, yang membentuk sesuatu menjadi barang baru yang utuh…..

Perdamaian ada ketika kita mengakui sebuah bentuk yang utuh…
ketika sebuah bentuk belum utuh…tabu kita untuk berdamai….
kadang untuk mencapai bentuk yang utuh…orang memaksakan diri…menginjak orang lain untuk mengakui…yang hasilnya hanya akan menjadikan realita semu…seperti realita semu ala George Bush yang menggambarkan dunia seperti koboi-koboi  yang heboh,melihat suku baru bernama Indian….

sungguh tak seru melihat realita yang dibuat mr.Bush….realita yang menawarkan perdamaian yang berbuntut penghinaan diri…dan kebanggaan semu dari sebuah penginjakkan makna hidup……

Tak ada yang bisa dipuaskan dari realita sejati…
Untuk puas…kita butuh rasa tak puas…benturan biasanya menciptakan atau diciptakan dari ketidak puasan…
benturan itu perlu…hingga terasa kesetaraan….
dan ketika orang mencapai kesetaraan…. perdamaian itu akan datang…..

perdamaian itu tak perlu dibuat buat….dia akan datang sendiri…ketika kita berani menunjukkan diri secara setara, utuh, dan tak dibuat-buat….
kadang di beberapa kelompok, kematian adalah perdamaian yang abadi…perdamaian bukanlah pilihan, sama seperti  kematian… ……

Ketika nafas tak berhembus, orang berhak mendapatkan kubur…
namun ketika nafas masih berhembus..realita pun mengalir seperti angin….

keseimbangan…kini hanya menjadi permainan orang2 yang ingin mencapai kesenangan….

Seorang anak kecil bertanya tentang kematian…

December 29th, 2006 by zakajekjon

Masih terlihat mega sisa sore tadi. Cahaya matahari seolah berjalan terkantuk memasuki pucuk-pucuk pohon hutan pinus di ujung barat gunung Kayla…
Dedaunan mulai banyak terlihat di tanah..tanda musim angin barat akan datang..

Tak jauh dari sisi hutan pinus, terdapat danau kecil. Mungkin lebih tepat dikatakan telaga, karena airnya begitu bening, seperti keluar dari mata air. Ada dermaga kecil dengan rakit tersandar disana. Sepertinya ada anak kecil yang sedang asik duduk sendiri , seraya kakinya memainkan air telaga yang beriak kecil tertiup angin.

Balik_hutan_pinus

Hanya mega langit yang menerangi telaga kini. Anak kecil masih berada disana. Terlihat dari siluetnya. Dari gerak badannya , siluet itu seolah sedang bercakap-cakap… Memang ada sedikit suara yang terdengar…

“Wahai malam, aku ini cuma anak kecil yang senang bermain, kenapa aku harus merasa takut padamu?”
“Wahai malam, angin yang berhembus terasa menusuk, apakah engkau memintaku untuk pulang ke rumah?”
“Wahai malam, aku ingin tahu suaramu, aku ingin tau mengapa ayahku takut kau memakanku dalam kegelapan? Ku yakin dia sedang mencariku di rumah bermainku, dibawah pohon ketapang.”

Anak kecil masih terus bergumam, sepertinya ia semakin giat bercakap… sedang mega telah ikut terlelap…

Sayup-sayup terdengar suara lelaki memanggil nama….

“Syaukiiiii, Syaukiiiii, dimana enkau, tolonglah akuuu”…
“Ini Ayahmu Nak, kemarilah ayo kita pulang:”…

Sang ayah berjalan gontai, dengan celana tergulung dan baju basah berkeringat. 

“  Ayaaaaaaah, aku disini…..aku disini Ayah”…. Siluet anak kecil masih terduduk menunduk di pinggir dermaga.

Ayah berlari kencang, tak melihat semak berduri yang ia lewati, menerobos batang-batang bambu yang memagari telaga.

“Anakku, apa yang kau lakukan kali ini. Kau membuatku was-was setengah mati,  Aku sudah membuatkan rumah mainan permintaanmu  di bawah pohon ketapang. Kenapa Engkau sekarang bermain disini?’”

“Ayah maafkan aku, aku bermain di tempat yang tidak seharusnya. Aku kemari karena ingin melihat pantulan mega di telaga ini, Ayah. Aku ingin melihat apakah matahari tertidur di bawah telaga , namun ternyata aku lihat matahari turun di balik hutan itu Ayah.” Tutur Anaknya sambil menunjuk gelapnya malam—yang tadi siang adalah pucuk-pucuk pohon pinus.

“Ayahku, aku ingin tau, kemana matahari setelah gelap, aku ingin tahu kemana perginya orang yang kau ceritakan sebagai ibuku. Dan Ayah, aku ingin tahu apakah ia ada di balik hutan pinus itu bersama matahari?”

Dua siluet saling berpelukan, yang satu terisak dan yang satu lagi seperti terdiam…

“Anakku, maafkan Ayahmu menangis. Ayah menangis karena Ayah pernah pergi ke balik hutan pinus. Kau tahu anakku, matahari pun tak ada disana. Di balik pohon pinus itu adalah padang rumput anakku, suatu saat kan kuajak Kau kesana.”

“Ayah, maafkan aku, aku tadi lama bertanya pada sang malam tentang maknanya… Dia,sang malam, hanya terdiam…

“Ayahku …Apakah kehilangan itu harus ditakuti?…..Apakah kehilangan itu berarti kita harus mengejar dan mencari?….Apakah kehilangan itu berarti kita tak bisa berbunyi? Mengapa kita harus terdiam dan berlari di saat kehilangan, toh esok aku bisa melihat matahari lagi?”…

Suara jangkrik mulai terdengar…suara daun jatuh pun terdengar…begitu syahdu suasana di pinggir telaga….

Kinjuku: Di Ufuk Timur Kulihat Sang Maharaja berpetuah..

November 17th, 2006 by zakajekjon

Minggu 12 nopember ada peristiwa seru di negara Kinjuku..

sebuah negeri yang diisi para pendagang dan pujangga. Negeri yang memiliki Raja yang sangat adil, bahkan saking adilnya Sang Raja selalu menyelesaikan masalah rakyatnya tanpa ada pihak yang merasa dirugikan.

Tak ada penjara di Kinjuku, tak ada pengadilan di Kinjuku, tak ada satupun hak rakyatnya yang dirampas…Yang ada disana malah rakyatnya yang selalu belajar memecahkan masalah..dan para pedagang menyelesaikan dagangannya hingga mendapat untung  dan kesenangan bagi para pembelinya…Para Pujangga hidup dengan tulisan tentang indahnya realita…dan rasa lelah dan bosan hanyalah candu yang mudah dihindari,karena lelah dan bosan hanya akan membuat dunia terasa berhenti

Sepertinya seluruh tanah di negeri ini diberkati oleh Sang pemilik alam. Diberkati karena setiap ingin selalu berakhir ada, setiap kesenangan berakhir syukur, setiap kita memulai keinginan selalu berjalan konsisten dari awal hingga akhir . Rakyat tahu.. bahwa untuk tahu langit, kita harus tau bumi, untuk menjadi ada selalu diawali tidak ada, untuk menjadi sesuatu itu harus selalu dimulai dari kenisbian atau O…

Yang muda berbuat sungguh2 untuk meng-wujud-kan keinginannya.  Wujud  yang biasanya  memberi pencerahan. Kontinyu…terus berbuat..tak ingat waktu…

Sedangkan yang tua, yang sudah lama mengarungi sang waktu…mengeluarkan pengalaman masa muda yang dibungkus dalam kata kata penyemangat bagi yang muda…cermin untuk yang muda….sebuah tutur  yang aduhai semok-nya….

Kini saatnya, tanggal 12 November, raja Kinjuku –Zulu- biasa mengadakan panggung rakyat di alun alun taman Borneo… semua diundang…. Tanggal 12 dipilih karena 312 tahun yang lalu janggawareng (istilah buyutnya buyut –dalam bahasa sunda) dari raja Zulu pertama kali menemukan mata air di taman Borneo- dulunya hutan…. Mata air ini menjadi alat pemersatu dan mengundang para penjelajah hutan lainnya untuk menetap di hutan Borneo..yang kemudian dijadikan sbuah Negara bernama Kinjuku…

Mata_air

Semua bergembira

Kini rakyat telah berkumpul…menantikan kemunculan raja Zulu di panggung alun-alun…menantikan petuah-petuah raja yang akan dijadikan panduan menghadapi tahun berikutnya.
Konon kabarnya raja Zulu diberkahi dengan kelebihan—bisa membaca bahasa alam—Beliau memiliki satu petuah yang sangat dipegang dan dijadikan pegangan orang orang Kinjuku…

“….jadikan diri kita seolah menjadi mata air..dan bila kita tak mampu lagi menjadi mata air…temukanlah cara dimana engkau bisa  seolah menjadi mata air..Karena kalian semua adalah mata air”….

“Kedamaian dalam air…kedamaian dalam kebeningan…pancaran yang memberikan kehidupan…itulah mata air….Tak ada yang tersembunyi..semua memancar..bergerak ke semua arah…. Dan menjadi rebutan orang orang dahaga……” Tutur Mio, salah satu penjaga gerbang alun-alun, yang menjelaskan sedikit arti dari kata kata raja Zulu..

“…DAN Ini petuahku untuk tahun ini, bila kalian telah berpencar…carilah rasa bersatu…karena tak ada yang lebih kuat dan menjadi perhatian apabila kita bersatu dan menghilangkan dahaga orang lain…selalu lihatlah kemana air mengalir…karena setiap perpisahan akan berakhir di samudera yang lebih luas…

…Setiap perselisihan dan masalah yang terselesaikan akan membuat wadah kita—manusia—menjadi semakin luas….

…Di titik tertentu, di masalah tertentu, dan waktu tertentu kita akan berbeda pendapat… kita pasti berpencar di segala arah…namun jangan khawatir..jangan menyerah….

…..kita akan bersatu di titik yang jauh lebih luas…yaitu lautan….jangan menyerah untuk bersatu…….

‘…jangan menyerah untuk bertemu lagi di samudera….

……DAN sekali lagi….Ini adalah petuahku untuk tahun ini….”

Raja Zulu terdiam ….warga kerajaan Kinjuku terdiam……..dan panggilan malam pun datang….. azan maghrib telah tiba….

…Semua kembali kerumah,dan saatnya kembali keruang kecil mereka…saatnya  menunaikan shalat…

…. Shalat, kembali ke titik 0….kembali merasa di tengah alam semesta yang luas……dimana Tuhan ada disana…bertemu dengan kita……….kita hanyalah air air yang mengalir dari mata air…

Mudik…kembali ke titik nol….

October 28th, 2006 by zakajekjon

Pak Supir bus Primajasa begitu serius menyetir bus jurusan Bandara SukarnoHatta(JKT)-BSM (bandung) yang saya tumpangi. Hampir semua homo sapien indonesiansis*  di hari Sabtu, awal libur lebaran kemarin  membutuhkan jalan yang lengang untuk bisa pulang…walau kelengang-an mungkin cuman mimpi…


…..Bis begitu cepat melesat, menyusul bis-bis lain di jalan dengan jarak yang sangat tipis, sampai-sampai saya yang duduk di sisi kiri bus terkaget melihat mata-mata penumpang yang memandang dengan muka pucat dari bus sebelah yang tersusul…..
=============================================

….SEmua terminal dipenuhi penumpang…stasiun kereta Gambir sudah seperti cendol (mungkin..kalo dilihat dari monas)…membuat saya memutar otak untuk bisa mudik ke Bandung tanpa harus berdesakan..seperti  menjadi bagian dari "cendol-cendol" hidup yang mengisi terminal dan titik-titik pemberangkatan di ibukota…huhu..

…Pilihan terakhir saya putuskan, saya kebandung dari Cengkareng saja….toh di Cengkareng ada bis primajasa  ke Bandung…dan toh orang-orang ("cendol") di Cengkareng secara matematis mungkin lebih banyak yang akan naek pesawat daripada naek bis….firasat bodoh saya berbicara seperti itu….mungkin saya ga harus ngantri seperti orang umumnya….menjadi cendol..huhu

…dan teman-teman…firasat saya teh kebetulan pas..
(..firasat teh mungkin seperti teman kita yang punya alat mesin waktu,melihat masa depan, dan membisikkan isinya pada kita..
…walau kadang firasat itu salah…..yaa..mungkin karena dia dengan mesin waktunya masuk ke dunia paralel…yang sama tampaknya namun kejadiannya berbalik dengan  realita…….)

Bis Primajasa memang terlihat sibuk…tetapi sibuk nungguin penumpang yang ingin ke bandung…dalam arti lain..mereka terlihat kekurangan penumpang…
..mungkin karena jadwal mereka yang tiap jam berangkat ke Bandung…jadi jumlah penumpang ga sebanding dengan orang yang ingin ke Bandung di tiap jamnya….

..Alhamdulillah….dengan sukses saya mendapat posisi kursi idaman saya di bus…di sebelah kiri… deretan ke 3, kalo diukur mah…posisi itu pas di belakang ban depan bis….katanya…posisi itu lumayan aman ke dua…setelah posisi di belakang supir….

.."Kami homosapien indonesiansis" ingin mudik!!!….

Mudik1_5
   
…Satu irama..satu suara…sehingga beresonansi menggetarkan pemerintah yang takut digoyang bila jalur mudik rakyat (di Jawa-khususnya) terganggu…..semua jadi ikut sibuk…semua bersuara…..seolah seperti suara-suara dalam pemilu…..hmm..

Sungguh heran dengan kelakuan rakyat…termasuk saya (hihihi)… Apa sih yang bisa didapat dari mudik…
Input apa sih yang bisa didapat dari kampung halaman selain bisa melihat indahnya pepohonan di kampung?

huhu…saya jadi ingat…

setiap orang punya kecendrungan kembali ke fitrah….kembali ke asal…kembali ke posisi ketika kita "belum menjadi" seperti saat ini….setiap orang ada kecendrungan untuk ingin  melihat asal….. mungkin karena hal itu juga pelajaran Sejarah lahir…… 

sebuah proses yang utuh selalu dimulai dari titik 0…..

kalo karena sebab itu maka mudik adalah sebuah kewajaran….malah bisa dibilang bukan hal yang sakral…. karena semua orang akan merasakan "kebutuhan kembali ke fitrah" itu….cuman masalah gilirannya saja…ya..kebetulan homosapien indonesiansis punya giliran yang sama untuk kembali ke asal (kampung)….

wajar saja bila rakyat marah bila pemerintah lalai memperhatikan kondisi jalan pada saat mudik….mungkin ya karena "nilai-nilai" dasar kemanusiaannya terganggu…hihihi…mungkin karena secara tidak sadar mereka merasa pemerintah tidak memperhatikan mereka secara manusiawi…hehehe…ngaco juga yak…

Satu hal yang pasti…pada saat kita kembali ke fitrah kita…. kita akan merasa di titik 0…

mungkin teman-teman yang pernah ikut meditasi…atau ikut apapun itu yang berbau pencarian ketenangan… akan membutuhkan sekali adanya keadaan 0 (nol) ini…. kondisi dimana gelombang pikiran mencapai kondisi "tenang"…tanpa distorsi….
Kalo di kungfu boy…pernah diilustrasikan… Chinmi pun bisa mendengar semua kicau burung di sekitarnya ketika dia mencapai kondisi "0"…

..walaupun dia berada di deket air terjun yang bising

Pada kondisi 0…kita bisa menjadi bagian utuh dari alam….Pada kondisi fitrah…maka seharusnya kita bisa menjadi bagian yang utuh dari lingkungan kita…..

mungkin…para homosapien indonesiansis merasa….mereka jadi utuh apabila mereka menemukan asal mereka…… dan "asal" yang bentuknya harafiah adalah kampung mereka sendiri….hehe

mulai keliatan lucu nih….

Apakah asal itu harus berbentuk utuh seperti kampung halaman?…
Apakah kembali ke asal itu haruslah melalui perjalanan yang melelahkan?….
Apakah bisa kita kembali ke fitrah (asal kita) tanpa harus kembali ke kampung halaman kita?…

Jawabannya tentu bisa…

namun masalahnya mungkin di "perjalanan" kembali itu….
namun masalahnya adalah bagaimana cara kita mendapatkan "angkutan" yang terbaik untuk kembali…

Tidak harus selalu pulang dengan bis-bis yang berada di terminal bis…
Tidak harus selalu bisa pulang dengan kereta yang berada di stasiun…
Tidak harus selalu bisa pulang dengan pesawat di bandara udara…

Bisa saja  kita bisa "pulang" ke asal yang jauh menggunakan bis yang ada di bandara..seperti saya (cuih)
Bisa saja kita bisa "pulang" dengan angkutan angkutan alternatif…

. yang mungkin tak terpikirkan orang-orang lain…sehingga kita tidakmenjadi "cendol-cendol" terminal dan stasiun…hihih

mudik … sebuah cara kembali ke fitrah….ala homosapien indonesiansis

Bisa saja kita mencari jalan kembali ke fitrah kita sendiri…tanpa harus pulang kampung…

Untuk kembali ke fitrah..kita memerlukan proses…

Untuk pulang kampung…kita harus melewatkan sebuah proses perjalanan…

Perjalanan untuk pulang kampung…yang kadang sulit dilalui…sehingga kadang harus menjadi "cendol-cendol"…

Mungkin intinya mudik adalah bisa menikmati perjalanan pulang kita….menikmati proses ketika kita kembali ke asal…kampung asal….

jalan pulang yang sulit dan jauh..kadang-kadang…

melelahkan…dan kadang membuat kita gusar..

…mungkin inti dari "perjalanan pulang" adalah kesabaran…untuk menikmati perjalanan…

..mudik menjadi sebuah proses nyata dan harafiah, menjadi simbol kembali ke asal…sebuah ritual yang mengakhiri  proses berfitrah sebenarnya…yaitu dengan bershaum selama sebulan penuh….

….Mungkin inti dari kembali ke fitrah adalah berproses, untuk kembali ke asal…yang seperti kata Chinmi…ketika kita berada di titik 0, kiita menemukan ketenangan…dan menjadi bagian dari alam semesta…

….Idul Fitri, saat kita  bisa menemukan ketenangan, dengan kesabaran

=================================================
* :
Para homosapien indonesiansis memang spesies yang "terlihat" unik…

bila lebih mereka gampang bangga…
bila kurang mereka gampang tergoda…
bila senang mereka gampang lupa…
bila susah mereka gampang berdoa….

seperti buih…ikut ombak yang bergulung…menepi…dan terhempas di pasir…..
menjadi berguna ketika kering dan menjadi garam yang  dijilat-jilat …..

oh…betapa uniknya  jadi homosapien indonesiansis ….

homosapien indonesiansis yang selalu tidak tenang…semoga mereka bisa mencari ketenangan dalam mudiknya….

andaikan kita bisa seperti air laut dalam yang asin, tanpa buih,..tanpa terlihat seperti garam……dan bila dirasa bisa membuat orang kehausan…..

========

hehe…sekian dulu ah…Minal Aidin Walfaizin….Mohon maaf lahir dan batin…semoga bangsa kita tidak mudah tertipu…..semoga kita dikembalikan padaNya dalam keadaan tenang ..seperti firmanNya:

"Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Ku dalam keadaan ridha dan diridhai"…

Capasity Building vs Building capacity…(Sebuah blog yang ga penting–lagi–)

October 8th, 2006 by zakajekjon

horeh…sayah ngeblogh lagih… jam sebelas malem adalah waktu yang pas untuk otak rehat..

Otak istirahat, dikembalikan ke keseimbangan kimiawi awal..seperti pagi tadi saat baru bangun saur…

Kandungan kimiawi yang mungkin sudah mencapai tahap beracun, akibat banyaknya input input yang harus diproses oleh otak, menyebabkan otot mata mulai berkedip sendiri gak jelas…

Jam sebelas malam…mata malah kecentilan…ngedip-ngedip gitu.

Kata orang tua, ada yang kangen….halah…kangen apaan…

===== =================================

Cuman kondisi ga normal yang "biasa" bagi seorang Jek. Baru saja jam sebelas malam, saya baru menyelesaikan diskusi "tak terencana" dengan ayah–dipangil babe–.

Mungkin hanya sekedar tanya jawab biasa. Namun gara gara diskusi, timbul banyak pertanyaan di otak saya, yang tak mungkin saya jawab sendiri…

Saat begitu banyak pertanyaan di otak yang harus dijawab secepatnya, menulis adalah sedikit trik saya untuk mengobral pertanyaan dan mengobral jawabannya sekaligus, karena saat malam selarut ini, saya lebih percaya pada kecepatan mengetik saya, daripada kecepatan berpikir otak yang lelah ini.

"De, bahasa ingrisnya pemberdayaan masyarakat itu apa?"..Tanya Ayah. "Heh?..apa ya.. supply for people power…kali"..Jawab saya dengan tak fokus(ngasal dan langsung nembak)–seperti biasa– seraya mata sedang mengikuti rollin teks newsnya metro tipi. Saat itu saya pengen tau berita ttg gagalnya Schumaker di GP Jepang….yang tadi siang saya gagal tonton.

"Heh? pemberdayaan masyarakat ya Beh? hmm..mungkin ada hubungannya dengan kata kata enhancement kali Beh.." Gue mencoba jawab lagi..masi dalam kondisi ngasal bikin jawaban…tapi lebih sopan…:P…

"Heh…enhancement?….itu kan artinya penambahan?’"…Jawab babeh dengan serius.

Saya balik badan, ternyata ayah serius sedang baca kamus, hehe… jadi malu sendiri.. TApi tetep ngeles,"Yaa, penambahan dan pemberdayaan kan masi satu makna kali beh", Jawab saya dengan (sekali lagi) sok tau.

"Oh iye deh, hmm.. disini ada kata-kata capacity building De, tulisannya , Capasity building for local resources..", kata Ayah sekali lagi.

"Dimana tuh beh?..Oh di berkas yang dikasi kantor itu ye?..hmmm berarti itu kali be…..

dan kami pun kembali sibuk ke urusan masing masing……

======== ================================================

Capacity_building

Ada satu kosa kata baru yang mengisi otak gw yang sok ngarang dan mulut yang sok nyosor ini….. CAPACITY BUILDING….

SEBUAH PROSES PEMBERDAYAAN sosok individu untuk memecahkan masalah…..

Apa sebab mereka harus pake istilah capacity building, padahal setelah saya buka kamus (akhirnya)…ada istilah lain yan lebih mantap….empowerment

Selama ini mungkin otak direcoki sama urusan BUILDING CAPACITY, apa sih yang harus disikapi saya, seorang arsitek bodoh , dari sebuah desain bangunan.

Sebuah bangunan yang punya keterkaitan terhadap kapasitas tampung, kapasitas fungsi kerja, dan kapasitas keindahannya (atmosfir yg disebabkannya)…

HMM…ada satu clue menarik yang bisa saya dapatkan…

capacity building >< building capacity bisa kita maenkan menjadi sebuah pasangan…

BUILDING CAPACITY yang berKKN dengan flowchart aktivitas, ukuran standar aktivitas, dan analisa2 kuantitatif2 lainnya, adalah racun bagi para desainer desainer pemimpi…

Tapi ternyata pemimpi pun butuh realitas….

CAPACITY BUILDING, akan menyebabkan para pemimpi (pemikir yang duduk di awan) untuk turun dan memijak bumi…..

Pada sebuah kondisi kritis, seorang pemimpi pasti terbangun, ATAU DIA HARUS MATI…

CAPACITY BUILDING akan membuat orang harus memikirkan bentuk, harus memikirkan karya, ataupun bila mampu menciptakan hologram yang bisa dilihat orang lain(dari berbagai sudut pandang)……

tak cukup hanya di balik batok kepala kita sendiri…tapi juga harus sampai di balik gendang telinga dan batok kepala orang lain<—dengan tanpa distorsi……

sebuah karya yang jernih, tanpa bias…dan mampu memecahkan masalah bersama, atau masalah orang lain (klien)…..

CAPACITY BUILDING, munkin hanya pemicu kita untuk melihat masalah dari sisi kualitatif, non materi…. yang mendekatkan kita pada desain desain black box……terasa, namun tak bisa/tak perlu ditanggapi dan dijejaki hirarki pembentukannya……

oh..Jek ngawur lagi, ngetiknya kecepetan lagi, otaknya belun berjalan….baru tangannya yang mampu mengetik………..

================================

Sebenarnya ada pertanyaan lanjutan dari si Babeh… "De, apa bedanya masyarakat dan penduduk?"…

Hmm….mulut jek yan lebih cepat berbicara dari pada kecepatan otaknya pun menjawab….

"Penduduk itu adalah sebuah pandangan kuantitatif, pengisi sebuah kawasan tertentu….hanya untuk dihitung dan sebagai objek….sedangkan masyarakat itu adalah sebuah subjek yang memiliki keterikatan di sebuah lokasi tertentu…dan dia bermakna apabila dihitung secara kualitatif….Beh"…

=================

….dan si Babeh pun bengong……….

TeRulAng Lagi

September 19th, 2006 by zakajekjon

Terulang
tadi malam aku tak bisa tidur karena berpikir…
berpikir atas masa lalu , atas jejak-jejak masa lalu,
atas jejak jejak yang telah kutinggalkan diatas padang pasir dengan angin-angin tanpa arah…

tadi malam aku tidak bisa tertidur karena aku harus mengingat langkah-langkah yang tidak bisa kumengerti
langkah-langkah kaki yang tidak bisa sejalan dengan pikiran, langkah-langkah kaki yang harus mengikuti realita-realita…
,,,seperti berjalan dilorong sempit….

aku hanya bisa terdiam di malam-malam penuh kepalsuan…
aku hanya bisa terdiam ketika melihat taman-taman bunga mengering dan layu..
tak bisa tumbuh karena tak ada udara-udara harapan…

aku tidak bisa tidur karena mata sudah kering dengan air mata bau darah dan bau bangkai
aku tidak bisa tidur karena pikiranku dipenuhi oleh harapan dan penilaian orang orang narsis dan skeptis

kini aku disini kini aku menulis sedikiit kata-kata
didalam uraian tulisan kertas tisu lusuh:

“Wahai angin, wahai langit-langit hitam dengan awan-awan tanpa hujan…
apakah kau lihat harapan itu seperti cahaya ataukah noktah hitam?”..
“Apakah kau lihat harapan itu adalah cela bagi para pendusta, bagi para pecundang?”
“Doa para pecundang hanyalah kepalsuan bagi realita…”
“Aku ingin melangkah ..seperti layaknya langkah-langkah hewan kecil yang baru dilahirkan oleh sang induk yang sayang padanya”..

“Aku ingin langkahku dipenuhi daun-daun yang menguning karena sudah waktunya untuk musim gugur, karena sudah waktunya kami melihat harapan-harapan baru,”….
” …meskipun kami harus melewati musim dingin,…meskipun kami sudah melewati musim berbunga”….

“Daun-daun hitam dimasa lalu yang ditiupi angin-angin tanpa arah, kini tersimpan di dalam gubuk-gubuk kelam seorang pengembara tua”…

“Semuanya tinggal senyum, semuanya tinggal cerita , semuanya tinggal kenarsisan orang tua…aku berharap untuk menjadi muda dan bisa terus melangkah dengan impian-impian setinggi langit”…

Cih…

cinta

itu

hanya

untuk

pemimpi….

===========
sedikit kutipan dari folder “musik puisi jek….”

JANGAN BeRHEnTI MeLAnGKaH TeMaN!!

August 25th, 2006 by zakajekjon

Langkah
Isabel melamun di depan jendela..
sudah tiga hari…
Isabel bercerita padaku…diari yang terbungkus kulit kayu..bahwa harapannya lepas seperti balon gas …
Kini ia hanya terpaku di depan jendela…tak mampu menulis di kertas lain..hanya di dalam lembar kertasku..

sepertinya kaki Isabel tak bisa melangkah..
hanya matanya yang mampu menatap jendela …dan dibalik jendela itu hanya ada taman kecil dengan kolam air mancur yang selalu memancar, karena airnya memang datang dari mata air..

mata air itu apabila ditatap akan selalu memberi kesegaran..
tapi kali ini..
sudah berhari-hari tatapan isabel pada mata air hanya menghasilkan kebekuan suasana…
tak ada lagu-lagu balad pendek yang selalu ia nyanyikan di sela-sela menulisiku…
“Berayun daun muda tertiup angin gunung”
”Bagaikan dara yang akan jatuh dalam pelukan”
“Andaikan aku bisa mencari”
“Kan kucari embun pagi itu , walau kulalui malam hari”….
Lirik itu awalnya ditulis di kertas bungkus teh
lirik itu awalnya muncul karena perasaan yang indah dalam penantian..
perasaan yang indah karena terbuai janji..

Tulisan Isabel terakhir padaku hanyalah kata kata:
” jauh aku harus menatap matanya”
“karena ku tak tahu apa yang ia inginkan lagi”
“jawaban ‘iya’ ku hanya menjadi obat untuk menatap dalam penantian yang lama”

Isabel kini tengah menghentikan inginnya menulis..
menghentikan apa yang membuat ia terus memutarkan inginnya..
kini ia telah jauh dari ingin..kini ia telah jauh dari mimpi..bahkan keinginan untuk mimpi pun telah hilang…

untuk Isabel..aku hanya ingin memberikan sedikit tawaran..
baliklah halaman kertas yang tlah kau tulis..
lihatlah kertas-kertas kosong yang masih tersisa..
lihatlah kekosongan mu saat ini…isilah ia…
jangan dulu kau buka tulisan-tulisan lalu..
bukan mulutmu yang harus terdiam…tapi hanya kertasku yang berhak terdiam karena kosong..dan seharusnya kau isi..
jangan berhenti menulisi kertas kosong..
jangan berhenti melangkah….

kakimu sedang membentur dinding…dinding-dinding realita yang jauh lebih rendah dari mimpimu..
langkahi dinding itu dengan kakimu yang satu lagi..
jangan kau berhenti di balik dinding…karena mimpimu adalah langit realitamu…
dan karya mu adalah tanah bagi pijakanmu…….

Kau kabulkan doaku…sekali lagi…

August 10th, 2006 by zakajekjon

Ripz_2

fiuuh….

sebenarnya batin ini lagi tenang..
sebenarnya dunia ini lagi tenang..
kelihatannya saja..

tapi mungkin itu adalah hiburan yang diberikanNya …yang harus kusukuri
hiburan diantara rawa-rawa ikan gabus…yang terlihat mendongak kelaparan…
hiburan diantara padang-padang tanah berlipan….yang siap menyengat..

fiuuh…
sebenarnya aku tidak peduli..
dengan penggapaian ikan-ikan yang ingin mengejar umpan..
berlenggak lenggok seolah terlihat sebagai ikan-ikan yang bisa dijual mahal…
kelihatannya saja…

tapi itu mungkin adalah ujian yang baru dilihatkanNya padaku…yang harus kulalui dengan senyum tulus
ujian diantara padang-padang tanah berlipan…yang siap menyengat…

ikan-ikan yang mencari umpan…jangan sampai mulutmu terkoyak..

lipan lipan yang mampu menyengat…hati hatilah dengan kaki manusia yang menginjak…

begitu banyak pelajaran yang Kau berikan Tuhan…sehingga ingin tersenyum..tersenyum..dan tersenyum lagi…

Maha banyak Kau kabulkan doaku…dengan cara yang tak kuduga…….

terima kasih Tuhan….atas keindahan dan keragaman yang Kau beri……


salam untuk negeri yang siap berperang……bukalah mata selalu..dan lihatlah negeri awan…yang diisi para penjaga alam…. keseimbangan akan datang…membelah emosi yang seolah gembira berdiri di ujung pedang…….begitu banyak yang terpancing..melawan realita …hmm..kulalui saja..toh semua harus belajar…bagaimanapun caranya….