Makna Doa di Jakarta
Tuesday, May 6th, 2008
Ada saatnya orang-orang Jakarta tertidur, melepas semua beban yang
menekan-nekan otaknya. Kadang mimpi menghampiri mereka, berisi sedikit
gambaran masa lalu, esok, atau bahkan masa yang tak mereka ketahui.
Kadang mimpi hanyalah sedikit gumpalan masalah yang terkolase dengan
rapi menjadi fragmen-fragmen cerita, yang kadang sudah dilupakan saat
terbangun.
Betapa hidup adalah rasa syukur, yang mengalir dalam darah-darah panas orang-orang penuh keinginan.
Terlihat
beberapa sosok bangkit di tidurnya, tak memikirkan apa yang terjadi
dalam mimpinya, namun bergegas membasuh wajah dan sedikit bagian tubuh
lainnya. Niat bersuci pun dicanangkan dalam hatinya. Berharap dalam
kesepian malam teriakan hati terdengar lebih menggema di telinga Yang
Kuasa.
Ini hanyalah salah satu doa mereka,penghuni Jakarta di malam hari, …
I pray to you My Lord
If i could reach Your sky
i never gonna leave You
When i walk in the crowd of the city
my eyes want to see more higher…
so i can see all of them talking loudly
I feel worry now My Lord
Why people cursed themselves..
With arrogances and dominancy
Tell them.. Shout at them loudly
Not the money rules their journey
But always You sign on our step…
Apakah Doa Itu Harapan
…kita bisa memilih..
Doa membuat kita mampu bangkit dikala seluruh badan nyaman dalam lelap.
Berharap
rel kehidupan tetap kukuh dan tak membuat kita anjlok atau terlempar ke
lembah yang membuat kita kotor. Pertanyaan-pertanyaan tentang kejadian
yang ada di dalam perjalanan kita adalah sebuah anugerah dan beban
tugas hidup yang Tuhan berikan.
Kadang beban terasa terlalu
berat, namun menurut Yang Kuasa tak pernah ada beban berat yang
melebihi kemampuan kemampuan orang-orang Jakarta. Bahkan kematian pun
adalah sebuah gerbang bagi ruh untuk mengenal makna baru.
Doa
kadang berarti tanya jawab dengan Tuhan. Tanya jawab mengenai makna,
warna, dan rasa yang meliputi hari-hari. Dengan kompleksitas peristiwa
yang ada di Jakarta, bisa memaknainya adalah sebuah nikmat khusus yang
mungkin pantas diberikan pada orang-orang Jakarta.
Memaknai
hidup di jakarta dengan cara yang lain, bisa dilakukan dengan cara yang
belum kita kenal.Puisi-puisi berbahasa asing dan makna-makna asing
kadang butuh untuk kita santap, sebagai sajian pemandangan kereta
kehidupan,dan referensi hidup, yang memberikan rasa dan tampilan yang
selalu berubah dan berbeda.
Doa di Jakarta, adalah sebuah
antitesis masalah Jakarta. Doa Jakarta tak hanya berisi harapan. Tapi
juga mantra-mantra pembunuh kutukan arogansi dan dominasi makhluk lain
yang hanya ingin puas bila melihat dirinya memuntahkan liur dari atas
kepala orang lain…
Hidup di jakarta tak membutuhkan toleransi.
Toleransi hanyalah sandiwara kecil dalam sebuah prolog pembukaan
pertunjukan drama yang anti happy ending.