It’s All About Mindset
Monday, March 31st, 2008
Pak Bayu pergi ke kantornya di Sudirman jam 5 pagi tadi..
Mobilnya
ditinggalkan di rumah, dan lebih memilih motor untuk menembus kemacetan
di perjalanan antara Parung-Sudirman. Pilihan yang berat dikala hujan,
namun urgent di saat Pak Bayu harus memenuhi janji dengan klien di pagi hari.
Macet
telah diceritakan pada laporan dibawah, yang menceritakan macet yang
seperti gurita-gurita lapar dan serakah. Pak Bayu mungkin berhasil dan
telah biasa melewatinya…
Saat kita sadar konsekwensi hidup di Kota,maka memilih, memutuskan dan teguh pendirian adalah kemampuan yang harganya mahal..
Tiap detik, tiap menit, dan tiap jam waktu berlalu seperti salesman,,,
memberikan banyak penawaran..
Banyak yang terlewatkan apabila kita tidak mendengar,
banyak yang terlupakan apabila kita tidak melihat,
dan banyak tawaran yang terabaikan bila kita tak punya tujuan.
Waktu yang terbuang akan memberikan pengaruh pada memori kita.
memori lama, akan terbungkus renda-renda kenarsisan diri, apabila tak segera mengisinya dengan memori baru.
Banyak
contoh yang terjadi, saat dalam suatu institusi, penghalang terbesar
yang dihadapi malah datang dari orang yang paling lama tinggal di situ.
Orang orang yang selalu cerita tentang kebanggaan masa lalu. Tak semua
orang lama seperti itu, orang-orang yang terus mendapatkan makna hidup
biasanya berlaku lebih bijak, berubah dari laskar-laskar siap mati
menjadi pengayom yang bijak..
Apa sih yang menyebabkannya.
Betapa orang tidak sadar
semakin lama ia semakin tak percaya lagi dengan informasi dari indera-inderanya.
Padahal dengan indera-indera itulah yang menghubungkannya dengan realita.
Lama
hidup sang senior membuat informasi-informasi lama menjadi tumpukan
memori di otaknya. Tumpukan itu kadang terangkai kembali menjadi
realita-realita semu, yang mensimulasikan sebuah kejadian baru seolah
mempunyai solusi dan template yang sama ala memori masa lalunya.
,,menyedihkan…sepertinya cocok juga saya namakan peristiwa ini sebagai VIRTUALMAPPING STIMULATION COMPLEX…(VSC)
tumpukan
memori ala subjektivitas semu ini bila terus dibangun akan menyebar
akut, seperti kanker yang merusak kemampuan indera-indera pembaca
realita kita..
Tak heran..apabila penyakit ini
dibiarkan…kemampuan mengolah masalah kita jadi minim, dan menjadi
safety zone member forever….yang berfungsi hanyalah syaraf-syaraf
tulang belakang dan otak-otak yang mulai overload..karena input
masalah-si penyakit VSC-dan solusi semu beraduk-aduk di kepala dan
berdenyut kencang…hiduppun laksana robot yang bergerak dengan voltase
yang semakin tinggi…hehe
kadang VSC ini seolah digambarkan
sebagai Mindset. Padahal ia hanyalah layaknya kumpulan benang kusut
yang berbentuk "seperti" otak.
Mindset sendiri tentu adalah
sebuah pola berfikir yang terbentuk dari rangkaian solusi akibat
benturan keras antara pemikiran dan masalah yang muncul di realita.
Tanpa solusi,tak akan lah si otak memiliki mindset yang jelas. Yang ada
hanya ketakutan dan phobia yang disebabkan VSC itu…
Berpikir
dan bersolusilah sampe tua, agar hidup terus berarti, karena masalah
terus berkembang dengan pattern-pattern yang indah ala teori fractal
Tak ada mindset yang salah saat kita merasa mampu mengimbangi masalah…
Pak
Bayu, dengan keputusannya, sedikit banyak telah merubah arti kemacetan
yang awalnya adalah sebuah suasana yang harus dirasakan, menjadi hanya
sekedar info kecil indera penglihatannya saja…Pak Bayu melenggang
terus menembus kemacetan kota,dan kemacetan pikiran….
fiuhh,….akhirnya berani juga saya menulis tulisan gila ini…maju terus urbanistis!
============
Akhirnya ketemu juga tulisan yang sedikit banyak seirama dengan tulisan ini:
Dari buku Pelatihan Shalat Khusu’ Karya Ustadz Abu Sangkan, hal 39:
Memorisasi
dianggap sebagai sebuah produk utama yang akan menunjang keberhasilan
seseorang di masa depan. Ini sudah menjadi semacam hukum tak tertulis
di masyarakat. Padahal memorisasi adalah sebuah produk mental dengan kadar yang terendah dan terhitung primitf.
Itulah
yang menurut Dr. Hidayat Nataatmaja sebagai penyakit cyber yang
menjadikan pikiran manusia modern berubah menjadi pikiran mekanis dan
digital (syariat termasuk kategori ini). Bahkan disebut sebagai HIV dan AIDS di dunia inteligensi/pikiran
Inteligensi manusia bisa lenyap karena virus itu, sehingga intelligence
nya mati dan diganti dengan artificial intelligence, rational
intelligence, yang tidak lait daripada digital intelligence. Orang
seperti ini mati perasaannya, tidak memiliki kehalusan budi, rasa
cintanya punah dan penampilannya kaku karena pikirannya ditimbang
dengan hukum hukum positif saja.
