Seorang anak kecil bertanya tentang kematian…
Masih terlihat mega sisa sore tadi. Cahaya matahari seolah berjalan terkantuk memasuki pucuk-pucuk pohon hutan pinus di ujung barat gunung Kayla…
Dedaunan mulai banyak terlihat di tanah..tanda musim angin barat akan datang..
Tak jauh dari sisi hutan pinus, terdapat danau kecil. Mungkin lebih tepat dikatakan telaga, karena airnya begitu bening, seperti keluar dari mata air. Ada dermaga kecil dengan rakit tersandar disana. Sepertinya ada anak kecil yang sedang asik duduk sendiri , seraya kakinya memainkan air telaga yang beriak kecil tertiup angin.
Hanya mega langit yang menerangi telaga kini. Anak kecil masih berada disana. Terlihat dari siluetnya. Dari gerak badannya , siluet itu seolah sedang bercakap-cakap… Memang ada sedikit suara yang terdengar…
“Wahai malam, aku ini cuma anak kecil yang senang bermain, kenapa aku harus merasa takut padamu?”
“Wahai malam, angin yang berhembus terasa menusuk, apakah engkau memintaku untuk pulang ke rumah?”
“Wahai malam, aku ingin tahu suaramu, aku ingin tau mengapa ayahku takut kau memakanku dalam kegelapan? Ku yakin dia sedang mencariku di rumah bermainku, dibawah pohon ketapang.”
Anak kecil masih terus bergumam, sepertinya ia semakin giat bercakap… sedang mega telah ikut terlelap…
Sayup-sayup terdengar suara lelaki memanggil nama….
“Syaukiiiii, Syaukiiiii, dimana enkau, tolonglah akuuu”…
“Ini Ayahmu Nak, kemarilah ayo kita pulang:”…
Sang ayah berjalan gontai, dengan celana tergulung dan baju basah berkeringat.
“ Ayaaaaaaah, aku disini…..aku disini Ayah”…. Siluet anak kecil masih terduduk menunduk di pinggir dermaga.
Ayah berlari kencang, tak melihat semak berduri yang ia lewati, menerobos batang-batang bambu yang memagari telaga.
“Anakku, apa yang kau lakukan kali ini. Kau membuatku was-was setengah mati, Aku sudah membuatkan rumah mainan permintaanmu di bawah pohon ketapang. Kenapa Engkau sekarang bermain disini?’”
“Ayah maafkan aku, aku bermain di tempat yang tidak seharusnya. Aku kemari karena ingin melihat pantulan mega di telaga ini, Ayah. Aku ingin melihat apakah matahari tertidur di bawah telaga , namun ternyata aku lihat matahari turun di balik hutan itu Ayah.” Tutur Anaknya sambil menunjuk gelapnya malam—yang tadi siang adalah pucuk-pucuk pohon pinus.
“Ayahku, aku ingin tau, kemana matahari setelah gelap, aku ingin tahu kemana perginya orang yang kau ceritakan sebagai ibuku. Dan Ayah, aku ingin tahu apakah ia ada di balik hutan pinus itu bersama matahari?”
Dua siluet saling berpelukan, yang satu terisak dan yang satu lagi seperti terdiam…
“Anakku, maafkan Ayahmu menangis. Ayah menangis karena Ayah pernah pergi ke balik hutan pinus. Kau tahu anakku, matahari pun tak ada disana. Di balik pohon pinus itu adalah padang rumput anakku, suatu saat kan kuajak Kau kesana.”
“Ayah, maafkan aku, aku tadi lama bertanya pada sang malam tentang maknanya… Dia,sang malam, hanya terdiam…
“Ayahku …Apakah kehilangan itu harus ditakuti?…..Apakah kehilangan itu berarti kita harus mengejar dan mencari?….Apakah kehilangan itu berarti kita tak bisa berbunyi? Mengapa kita harus terdiam dan berlari di saat kehilangan, toh esok aku bisa melihat matahari lagi?”…
Suara jangkrik mulai terdengar…suara daun jatuh pun terdengar…begitu syahdu suasana di pinggir telaga….

February 13th, 2007 at 3:40 am
“Mengapa kita harus terdiam dan berlari di saat kehilangan, toh esok aku bisa melihat matahari lagi?” —> bung zaka.
saat kita mencoba teguh berjejak pada pasir di pinggir pantai semakin lama ombak yang datang dengan sesuka hatinya membuat kita semakin terbenam. betapa sulit untuk mencoba berjalan walau dengan langkah tertatih. apa yang telah menyita hati disaat itu? apakah vista yang terhampar tak bisa tergantikan dengan sudut yang berbeda? mungkin saat kaki tertatih mencoba keluar dari benaman sedikit demi sedikit kita akan melihat vista yang berbeda, masih hal yang sama hanya terlihat berbeda. dan jejak benaman kakipun terhapus oleh ombak yang terus bergulir. vista.. aku butuh vista dari sudut berbeda…