Capasity Building vs Building capacity…(Sebuah blog yang ga penting–lagi–)
horeh…sayah ngeblogh lagih… jam sebelas malem adalah waktu yang pas untuk otak rehat..
Otak istirahat, dikembalikan ke keseimbangan kimiawi awal..seperti pagi tadi saat baru bangun saur…
Kandungan kimiawi yang mungkin sudah mencapai tahap beracun, akibat banyaknya input input yang harus diproses oleh otak, menyebabkan otot mata mulai berkedip sendiri gak jelas…
Jam sebelas malam…mata malah kecentilan…ngedip-ngedip gitu.
Kata orang tua, ada yang kangen….halah…kangen apaan…
===== =================================
Cuman kondisi ga normal yang "biasa" bagi seorang Jek. Baru saja jam sebelas malam, saya baru menyelesaikan diskusi "tak terencana" dengan ayah–dipangil babe–.
Mungkin hanya sekedar tanya jawab biasa. Namun gara gara diskusi, timbul banyak pertanyaan di otak saya, yang tak mungkin saya jawab sendiri…
Saat begitu banyak pertanyaan di otak yang harus dijawab secepatnya, menulis adalah sedikit trik saya untuk mengobral pertanyaan dan mengobral jawabannya sekaligus, karena saat malam selarut ini, saya lebih percaya pada kecepatan mengetik saya, daripada kecepatan berpikir otak yang lelah ini.
"De, bahasa ingrisnya pemberdayaan masyarakat itu apa?"..Tanya Ayah. "Heh?..apa ya.. supply for people power…kali"..Jawab saya dengan tak fokus(ngasal dan langsung nembak)–seperti biasa– seraya mata sedang mengikuti rollin teks newsnya metro tipi. Saat itu saya pengen tau berita ttg gagalnya Schumaker di GP Jepang….yang tadi siang saya gagal tonton.
"Heh? pemberdayaan masyarakat ya Beh? hmm..mungkin ada hubungannya dengan kata kata enhancement kali Beh.." Gue mencoba jawab lagi..masi dalam kondisi ngasal bikin jawaban…tapi lebih sopan…:P…
"Heh…enhancement?….itu kan artinya penambahan?’"…Jawab babeh dengan serius.
Saya balik badan, ternyata ayah serius sedang baca kamus, hehe… jadi malu sendiri.. TApi tetep ngeles,"Yaa, penambahan dan pemberdayaan kan masi satu makna kali beh", Jawab saya dengan (sekali lagi) sok tau.
"Oh iye deh, hmm.. disini ada kata-kata capacity building De, tulisannya , Capasity building for local resources..", kata Ayah sekali lagi.
"Dimana tuh beh?..Oh di berkas yang dikasi kantor itu ye?..hmmm berarti itu kali be…..
dan kami pun kembali sibuk ke urusan masing masing……
======== ================================================
Ada satu kosa kata baru yang mengisi otak gw yang sok ngarang dan mulut yang sok nyosor ini….. CAPACITY BUILDING….
SEBUAH PROSES PEMBERDAYAAN sosok individu untuk memecahkan masalah…..
Apa sebab mereka harus pake istilah capacity building, padahal setelah saya buka kamus (akhirnya)…ada istilah lain yan lebih mantap….empowerment
Selama ini mungkin otak direcoki sama urusan BUILDING CAPACITY, apa sih yang harus disikapi saya, seorang arsitek bodoh , dari sebuah desain bangunan.
Sebuah bangunan yang punya keterkaitan terhadap kapasitas tampung, kapasitas fungsi kerja, dan kapasitas keindahannya (atmosfir yg disebabkannya)…
HMM…ada satu clue menarik yang bisa saya dapatkan…
capacity building >< building capacity bisa kita maenkan menjadi sebuah pasangan…
BUILDING CAPACITY yang berKKN dengan flowchart aktivitas, ukuran standar aktivitas, dan analisa2 kuantitatif2 lainnya, adalah racun bagi para desainer desainer pemimpi…
Tapi ternyata pemimpi pun butuh realitas….
CAPACITY BUILDING, akan menyebabkan para pemimpi (pemikir yang duduk di awan) untuk turun dan memijak bumi…..
Pada sebuah kondisi kritis, seorang pemimpi pasti terbangun, ATAU DIA HARUS MATI…
CAPACITY BUILDING akan membuat orang harus memikirkan bentuk, harus memikirkan karya, ataupun bila mampu menciptakan hologram yang bisa dilihat orang lain(dari berbagai sudut pandang)……
tak cukup hanya di balik batok kepala kita sendiri…tapi juga harus sampai di balik gendang telinga dan batok kepala orang lain<—dengan tanpa distorsi……
sebuah karya yang jernih, tanpa bias…dan mampu memecahkan masalah bersama, atau masalah orang lain (klien)…..
CAPACITY BUILDING, munkin hanya pemicu kita untuk melihat masalah dari sisi kualitatif, non materi…. yang mendekatkan kita pada desain desain black box……terasa, namun tak bisa/tak perlu ditanggapi dan dijejaki hirarki pembentukannya……
oh..Jek ngawur lagi, ngetiknya kecepetan lagi, otaknya belun berjalan….baru tangannya yang mampu mengetik………..
================================
Sebenarnya ada pertanyaan lanjutan dari si Babeh… "De, apa bedanya masyarakat dan penduduk?"…
Hmm….mulut jek yan lebih cepat berbicara dari pada kecepatan otaknya pun menjawab….
"Penduduk itu adalah sebuah pandangan kuantitatif, pengisi sebuah kawasan tertentu….hanya untuk dihitung dan sebagai objek….sedangkan masyarakat itu adalah sebuah subjek yang memiliki keterikatan di sebuah lokasi tertentu…dan dia bermakna apabila dihitung secara kualitatif….Beh"…
=================
….dan si Babeh pun bengong……….

October 9th, 2006 at 5:30 am
duh Jek..asik dan takut punya anak kya lu! Asiknya, otaknya kritis. takutnya, ntar gw kewalahan ^_^
Mana anak gw dah mulai bawel kaya lu lgi padahal bru 2,5thn..ajarin gw dunk..hehehe..
October 10th, 2006 at 12:26 am
my god! ternyata issue yang satu ini akan selalu selamanya mengikuti jiwa2 seorang designer. dari mulai masuk kuliah sampai sekarang terjun bebas sebebas bebasnya sampe terjengkang di aspal hitam pun issue antara form and function masih menjadi pembahasan maha hangat. mengapa pemimpi butuh realita dan kenapa realita butuh mimpi? mimpi kangen sama realita karena kita somehow hidup di dunia 3 dimensi dimana ke lima panca indera menangkap persepsi darinya. Hal ini menjadi pemicu bahwa walau dengan berat hati, mimpi akhirnya bersedia menjejakkan kaki2nya yang mahal dan bernilai itu ke alam nyata, sebab mimpi punya gengsi - gengsi dan prestige supaya mendapatkan pengakuan atas nilai dirinya yang unik dan tiada duanya itu. kadang mimpi begitu egois begitu idealis begitu murni sampai tak bersedia dirinya tercoreng oleh realita. namun akhirnya seperti laju air di sungai ia pun akan perlahan tetapi pasti terhanyut ke hilir. Sebaliknya realita juga mengejar mimpi. karena realita juga tidak pernah merasa puas, realita selalu mencari yang lebih lebih lebih. walau gengsi juga minta sama si mimpi tapi dia tau kalau air saja tidak cukup. air butuh sirup. butuh kopi. butuh gula. butuh milo butuh dancow.*kok g makin bingung yaa… huaaaaaaaaaaaaaaa…
October 10th, 2006 at 6:02 pm
orang seperti jek tidak penah bener2 menapak diam dan berjejak,
bahkan dalam tidur pun dia bangun,
kecepatan mulutnya dalam berbicara melebihi kemampuan otaknya adalah semacam efisiensi penggunaan energi, akselerasi tidak pernah menyentuh nol,
alam bawah sadar yang hampir tak pernah padam, mengakibatkannya awas sepanjang nafas, awas terhadap apapun yang menyentuh indra, awas yang tak terkendali, liar…
jek selalu punya jawaban untuk semuanya, bahkan lebih dari satu untuk setiap pertanyaan,
jadi kalau suatu saat otaknya harus bekerja untuk mendaptkan suatu jawaban maka pertanyaannya adalah… apa saja kerja otakmu jek?
October 10th, 2006 at 7:02 pm
otak gw cuman sekedar terminal tentakel2 yang menampung input dari luar , dan input2 itu di susun jadi sebuah mindset/perilaku/pola ..nah setelah jadi mindset…ditaro tuh die di sumsum tulang belakang…jadilah replek…. jadi pas ngadepin sesuatu kadang replek bekerja duluan…seperti gerakan replek supir angkot yang bila ada penumpang langsung ngerem walau di tengah jalan, atau repleknya tukang bajaj yang hanya dia dan Tuhan tau arah belok si bajaj…ya karena emang ga pake otak…dia pake replek..sumsum tulang belakang….
sedangkan otak masih terlena nyari2 input-input baruh…… atau dimana ada penumpang-penumpang baruh…:D
October 10th, 2006 at 7:12 pm
hahaha.. yaah.. bahasa laennya jek