Archive for October, 2006

Mudik…kembali ke titik nol….

Saturday, October 28th, 2006

Pak Supir bus Primajasa begitu serius menyetir bus jurusan Bandara SukarnoHatta(JKT)-BSM (bandung) yang saya tumpangi. Hampir semua homo sapien indonesiansis*  di hari Sabtu, awal libur lebaran kemarin  membutuhkan jalan yang lengang untuk bisa pulang…walau kelengang-an mungkin cuman mimpi…


…..Bis begitu cepat melesat, menyusul bis-bis lain di jalan dengan jarak yang sangat tipis, sampai-sampai saya yang duduk di sisi kiri bus terkaget melihat mata-mata penumpang yang memandang dengan muka pucat dari bus sebelah yang tersusul…..
=============================================

….SEmua terminal dipenuhi penumpang…stasiun kereta Gambir sudah seperti cendol (mungkin..kalo dilihat dari monas)…membuat saya memutar otak untuk bisa mudik ke Bandung tanpa harus berdesakan..seperti  menjadi bagian dari "cendol-cendol" hidup yang mengisi terminal dan titik-titik pemberangkatan di ibukota…huhu..

…Pilihan terakhir saya putuskan, saya kebandung dari Cengkareng saja….toh di Cengkareng ada bis primajasa  ke Bandung…dan toh orang-orang ("cendol") di Cengkareng secara matematis mungkin lebih banyak yang akan naek pesawat daripada naek bis….firasat bodoh saya berbicara seperti itu….mungkin saya ga harus ngantri seperti orang umumnya….menjadi cendol..huhu

…dan teman-teman…firasat saya teh kebetulan pas..
(..firasat teh mungkin seperti teman kita yang punya alat mesin waktu,melihat masa depan, dan membisikkan isinya pada kita..
…walau kadang firasat itu salah…..yaa..mungkin karena dia dengan mesin waktunya masuk ke dunia paralel…yang sama tampaknya namun kejadiannya berbalik dengan  realita…….)

Bis Primajasa memang terlihat sibuk…tetapi sibuk nungguin penumpang yang ingin ke bandung…dalam arti lain..mereka terlihat kekurangan penumpang…
..mungkin karena jadwal mereka yang tiap jam berangkat ke Bandung…jadi jumlah penumpang ga sebanding dengan orang yang ingin ke Bandung di tiap jamnya….

..Alhamdulillah….dengan sukses saya mendapat posisi kursi idaman saya di bus…di sebelah kiri… deretan ke 3, kalo diukur mah…posisi itu pas di belakang ban depan bis….katanya…posisi itu lumayan aman ke dua…setelah posisi di belakang supir….

.."Kami homosapien indonesiansis" ingin mudik!!!….

Mudik1_5
   
…Satu irama..satu suara…sehingga beresonansi menggetarkan pemerintah yang takut digoyang bila jalur mudik rakyat (di Jawa-khususnya) terganggu…..semua jadi ikut sibuk…semua bersuara…..seolah seperti suara-suara dalam pemilu…..hmm..

Sungguh heran dengan kelakuan rakyat…termasuk saya (hihihi)… Apa sih yang bisa didapat dari mudik…
Input apa sih yang bisa didapat dari kampung halaman selain bisa melihat indahnya pepohonan di kampung?

huhu…saya jadi ingat…

setiap orang punya kecendrungan kembali ke fitrah….kembali ke asal…kembali ke posisi ketika kita "belum menjadi" seperti saat ini….setiap orang ada kecendrungan untuk ingin  melihat asal….. mungkin karena hal itu juga pelajaran Sejarah lahir…… 

sebuah proses yang utuh selalu dimulai dari titik 0…..

kalo karena sebab itu maka mudik adalah sebuah kewajaran….malah bisa dibilang bukan hal yang sakral…. karena semua orang akan merasakan "kebutuhan kembali ke fitrah" itu….cuman masalah gilirannya saja…ya..kebetulan homosapien indonesiansis punya giliran yang sama untuk kembali ke asal (kampung)….

wajar saja bila rakyat marah bila pemerintah lalai memperhatikan kondisi jalan pada saat mudik….mungkin ya karena "nilai-nilai" dasar kemanusiaannya terganggu…hihihi…mungkin karena secara tidak sadar mereka merasa pemerintah tidak memperhatikan mereka secara manusiawi…hehehe…ngaco juga yak…

Satu hal yang pasti…pada saat kita kembali ke fitrah kita…. kita akan merasa di titik 0…

mungkin teman-teman yang pernah ikut meditasi…atau ikut apapun itu yang berbau pencarian ketenangan… akan membutuhkan sekali adanya keadaan 0 (nol) ini…. kondisi dimana gelombang pikiran mencapai kondisi "tenang"…tanpa distorsi….
Kalo di kungfu boy…pernah diilustrasikan… Chinmi pun bisa mendengar semua kicau burung di sekitarnya ketika dia mencapai kondisi "0"…

..walaupun dia berada di deket air terjun yang bising

Pada kondisi 0…kita bisa menjadi bagian utuh dari alam….Pada kondisi fitrah…maka seharusnya kita bisa menjadi bagian yang utuh dari lingkungan kita…..

mungkin…para homosapien indonesiansis merasa….mereka jadi utuh apabila mereka menemukan asal mereka…… dan "asal" yang bentuknya harafiah adalah kampung mereka sendiri….hehe

mulai keliatan lucu nih….

Apakah asal itu harus berbentuk utuh seperti kampung halaman?…
Apakah kembali ke asal itu haruslah melalui perjalanan yang melelahkan?….
Apakah bisa kita kembali ke fitrah (asal kita) tanpa harus kembali ke kampung halaman kita?…

Jawabannya tentu bisa…

namun masalahnya mungkin di "perjalanan" kembali itu….
namun masalahnya adalah bagaimana cara kita mendapatkan "angkutan" yang terbaik untuk kembali…

Tidak harus selalu pulang dengan bis-bis yang berada di terminal bis…
Tidak harus selalu bisa pulang dengan kereta yang berada di stasiun…
Tidak harus selalu bisa pulang dengan pesawat di bandara udara…

Bisa saja  kita bisa "pulang" ke asal yang jauh menggunakan bis yang ada di bandara..seperti saya (cuih)
Bisa saja kita bisa "pulang" dengan angkutan angkutan alternatif…

. yang mungkin tak terpikirkan orang-orang lain…sehingga kita tidakmenjadi "cendol-cendol" terminal dan stasiun…hihih

mudik … sebuah cara kembali ke fitrah….ala homosapien indonesiansis

Bisa saja kita mencari jalan kembali ke fitrah kita sendiri…tanpa harus pulang kampung…

Untuk kembali ke fitrah..kita memerlukan proses…

Untuk pulang kampung…kita harus melewatkan sebuah proses perjalanan…

Perjalanan untuk pulang kampung…yang kadang sulit dilalui…sehingga kadang harus menjadi "cendol-cendol"…

Mungkin intinya mudik adalah bisa menikmati perjalanan pulang kita….menikmati proses ketika kita kembali ke asal…kampung asal….

jalan pulang yang sulit dan jauh..kadang-kadang…

melelahkan…dan kadang membuat kita gusar..

…mungkin inti dari "perjalanan pulang" adalah kesabaran…untuk menikmati perjalanan…

..mudik menjadi sebuah proses nyata dan harafiah, menjadi simbol kembali ke asal…sebuah ritual yang mengakhiri  proses berfitrah sebenarnya…yaitu dengan bershaum selama sebulan penuh….

….Mungkin inti dari kembali ke fitrah adalah berproses, untuk kembali ke asal…yang seperti kata Chinmi…ketika kita berada di titik 0, kiita menemukan ketenangan…dan menjadi bagian dari alam semesta…

….Idul Fitri, saat kita  bisa menemukan ketenangan, dengan kesabaran

=================================================
* :
Para homosapien indonesiansis memang spesies yang "terlihat" unik…

bila lebih mereka gampang bangga…
bila kurang mereka gampang tergoda…
bila senang mereka gampang lupa…
bila susah mereka gampang berdoa….

seperti buih…ikut ombak yang bergulung…menepi…dan terhempas di pasir…..
menjadi berguna ketika kering dan menjadi garam yang  dijilat-jilat …..

oh…betapa uniknya  jadi homosapien indonesiansis ….

homosapien indonesiansis yang selalu tidak tenang…semoga mereka bisa mencari ketenangan dalam mudiknya….

andaikan kita bisa seperti air laut dalam yang asin, tanpa buih,..tanpa terlihat seperti garam……dan bila dirasa bisa membuat orang kehausan…..

========

hehe…sekian dulu ah…Minal Aidin Walfaizin….Mohon maaf lahir dan batin…semoga bangsa kita tidak mudah tertipu…..semoga kita dikembalikan padaNya dalam keadaan tenang ..seperti firmanNya:

"Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Ku dalam keadaan ridha dan diridhai"…

Capasity Building vs Building capacity…(Sebuah blog yang ga penting–lagi–)

Sunday, October 8th, 2006

horeh…sayah ngeblogh lagih… jam sebelas malem adalah waktu yang pas untuk otak rehat..

Otak istirahat, dikembalikan ke keseimbangan kimiawi awal..seperti pagi tadi saat baru bangun saur…

Kandungan kimiawi yang mungkin sudah mencapai tahap beracun, akibat banyaknya input input yang harus diproses oleh otak, menyebabkan otot mata mulai berkedip sendiri gak jelas…

Jam sebelas malam…mata malah kecentilan…ngedip-ngedip gitu.

Kata orang tua, ada yang kangen….halah…kangen apaan…

===== =================================

Cuman kondisi ga normal yang "biasa" bagi seorang Jek. Baru saja jam sebelas malam, saya baru menyelesaikan diskusi "tak terencana" dengan ayah–dipangil babe–.

Mungkin hanya sekedar tanya jawab biasa. Namun gara gara diskusi, timbul banyak pertanyaan di otak saya, yang tak mungkin saya jawab sendiri…

Saat begitu banyak pertanyaan di otak yang harus dijawab secepatnya, menulis adalah sedikit trik saya untuk mengobral pertanyaan dan mengobral jawabannya sekaligus, karena saat malam selarut ini, saya lebih percaya pada kecepatan mengetik saya, daripada kecepatan berpikir otak yang lelah ini.

"De, bahasa ingrisnya pemberdayaan masyarakat itu apa?"..Tanya Ayah. "Heh?..apa ya.. supply for people power…kali"..Jawab saya dengan tak fokus(ngasal dan langsung nembak)–seperti biasa– seraya mata sedang mengikuti rollin teks newsnya metro tipi. Saat itu saya pengen tau berita ttg gagalnya Schumaker di GP Jepang….yang tadi siang saya gagal tonton.

"Heh? pemberdayaan masyarakat ya Beh? hmm..mungkin ada hubungannya dengan kata kata enhancement kali Beh.." Gue mencoba jawab lagi..masi dalam kondisi ngasal bikin jawaban…tapi lebih sopan…:P…

"Heh…enhancement?….itu kan artinya penambahan?’"…Jawab babeh dengan serius.

Saya balik badan, ternyata ayah serius sedang baca kamus, hehe… jadi malu sendiri.. TApi tetep ngeles,"Yaa, penambahan dan pemberdayaan kan masi satu makna kali beh", Jawab saya dengan (sekali lagi) sok tau.

"Oh iye deh, hmm.. disini ada kata-kata capacity building De, tulisannya , Capasity building for local resources..", kata Ayah sekali lagi.

"Dimana tuh beh?..Oh di berkas yang dikasi kantor itu ye?..hmmm berarti itu kali be…..

dan kami pun kembali sibuk ke urusan masing masing……

======== ================================================

Capacity_building

Ada satu kosa kata baru yang mengisi otak gw yang sok ngarang dan mulut yang sok nyosor ini….. CAPACITY BUILDING….

SEBUAH PROSES PEMBERDAYAAN sosok individu untuk memecahkan masalah…..

Apa sebab mereka harus pake istilah capacity building, padahal setelah saya buka kamus (akhirnya)…ada istilah lain yan lebih mantap….empowerment

Selama ini mungkin otak direcoki sama urusan BUILDING CAPACITY, apa sih yang harus disikapi saya, seorang arsitek bodoh , dari sebuah desain bangunan.

Sebuah bangunan yang punya keterkaitan terhadap kapasitas tampung, kapasitas fungsi kerja, dan kapasitas keindahannya (atmosfir yg disebabkannya)…

HMM…ada satu clue menarik yang bisa saya dapatkan…

capacity building >< building capacity bisa kita maenkan menjadi sebuah pasangan…

BUILDING CAPACITY yang berKKN dengan flowchart aktivitas, ukuran standar aktivitas, dan analisa2 kuantitatif2 lainnya, adalah racun bagi para desainer desainer pemimpi…

Tapi ternyata pemimpi pun butuh realitas….

CAPACITY BUILDING, akan menyebabkan para pemimpi (pemikir yang duduk di awan) untuk turun dan memijak bumi…..

Pada sebuah kondisi kritis, seorang pemimpi pasti terbangun, ATAU DIA HARUS MATI…

CAPACITY BUILDING akan membuat orang harus memikirkan bentuk, harus memikirkan karya, ataupun bila mampu menciptakan hologram yang bisa dilihat orang lain(dari berbagai sudut pandang)……

tak cukup hanya di balik batok kepala kita sendiri…tapi juga harus sampai di balik gendang telinga dan batok kepala orang lain<—dengan tanpa distorsi……

sebuah karya yang jernih, tanpa bias…dan mampu memecahkan masalah bersama, atau masalah orang lain (klien)…..

CAPACITY BUILDING, munkin hanya pemicu kita untuk melihat masalah dari sisi kualitatif, non materi…. yang mendekatkan kita pada desain desain black box……terasa, namun tak bisa/tak perlu ditanggapi dan dijejaki hirarki pembentukannya……

oh..Jek ngawur lagi, ngetiknya kecepetan lagi, otaknya belun berjalan….baru tangannya yang mampu mengetik………..

================================

Sebenarnya ada pertanyaan lanjutan dari si Babeh… "De, apa bedanya masyarakat dan penduduk?"…

Hmm….mulut jek yan lebih cepat berbicara dari pada kecepatan otaknya pun menjawab….

"Penduduk itu adalah sebuah pandangan kuantitatif, pengisi sebuah kawasan tertentu….hanya untuk dihitung dan sebagai objek….sedangkan masyarakat itu adalah sebuah subjek yang memiliki keterikatan di sebuah lokasi tertentu…dan dia bermakna apabila dihitung secara kualitatif….Beh"…

=================

….dan si Babeh pun bengong……….