Archive for May, 2006

Kapten Klost Pengembara Badai vs Kapten Klost Pemburu ikan paus

Tuesday, May 23rd, 2006

Kapten_klost_1

Hari kamis pagi, pulau MidleLand mulai terlihat. Kapten Klost menyiapkan para kru untuk siap-siap berlabuh… “Hoy boys, tanjung Ourland telah terlihat,…siapkan tali jangkar, lipat layar, dan tutup rapat peti es!!”….

“Kenapa peti es harus ditutup Ten?”, kata Oak, si pelempar tombak….
“Karena kapal mau merapat”, Kapten Klost berusaha menjawab…
“Jadi harus ditutup?”, Oak bertanya ulang…
“Ya sudah, terserah Kau, tapi aku ingin melihat ikan-ikan itu Kau gigit satu persatu ke pelelangan ikan,” Kata Kapten Klost dengan enteng seraya menuju geladak yang dipenuhi tali tali pengait jaring ikan.

“Ka..p..piten, seg …era kesini, kemudi agak tersen…dat!” Teriak Moore, juru kemudi kapal dengan lafal terpatah, khas pelaut Tanjung MidleLand. Orang-orang Midle Land terkenal sering cegukan, konon kabarnya nenek moyang mereka adalah seorang pelaut pemabuk yang menikahi putri raja yang gagu…

“Ah, beb..bet..tapa mengharuk..kannya bi..bbb.bila kau mendengar cerita nnn…nenenek moyangku, aakk..uu..bbeeggitt..u…menikmatinya” ujar Moore selalu, saat teman-temannya menjadikan logatnya sebagai gurauan….

Hari yang sibuk di kapal nelayan Kapten Klost> Semua perahu di Laut Atlantik mulai menepi menuju dermaga-dermaga, karena Badai bulan Oktober semakin mendekati Selat Torana, Selat ter selatan dari pulau Imo, tempat kota pelabuhan MidleLand berada…

“Hey Kalian, Aku undang ke Bar Wolken di sudut kota, datanglah jam 8 nanti, kita hangatkan diri sebelum badai datang menghempas dermaga”, teriak Kapten Klost dari geladak kepada para kru. “Yuhuu , Yippiieee”, teriak para kru, “Kita ratakan botol-botol di Wolken, Kau masih menyisakan kaviar dari teluk Madow kan Soundre?…” tanya Kapten kepada Moore.,,Soundre adalah panggilan Kapten pada Moore, kru yang bersuara paling aneh
“M…mas..masi”…jawab gagap Moore, “Kitta , berppeess..ttaaaaaaaaaaaah..yipi”….Moore mengangkat tangannya dengan gembira….

SUASANA BAR WOLKEN BEGITU BERSAHAJA, BAR YANG KECIL, HANYA MAMPU DIISI 60 ORANG, ITUPUN SEBAGIAN HARUS BERDIRI KARENA BANGKUNYA HANYA ADA DI SISI TEMBOK, NAMUN HARI INI BEGITU RIUH DIISI OLEH KRU KAPTEN KLOST, YANG SEDANG MERAYAKAN KEMENANGAN ATAS OMBAK MUSIM BADAI…

“Huraaaaaa, Ayo kawan-kawan tambah lagi, semua gentong bir sudah kubayar untuk hari ini!!” Teriak Klost, sang kapten.

“yippiiiiiiii…Mama Risto, berikan kami donat-donat keju itu lagi”…teriakpara kru kepada Mama Risto, pelayan bar setia yang memiliki resep donat yang superlezat….

“Kapten, berikan kami sedikit ceritamu di tengah laut, mengapa hari ini Kau begitu berbeda”..seru para warga, non nelayan, yang menikmati kegembiraan para kru kapal…

“CERITAKU DI TENGAH LAUT??? HOHOO..HAHAHAHA….OYA..OKE..AKU KAN BERCERITA SEDIKIT SAJA,…KARENA PELAYARAN INI BEGITU BERARTI BAGIKU…..

“Aku adalah seorang pelaut, yaaa..kurang lebih 30 tahun lalu aku mulai ketergantungan dengan ombak ombak yang menggetarkan…..Saat itu tak ada yang membuatku gentar untuk mencoba laut yang lebih ganas lagi…lebih ganas lagi…dan ayo…mana laut yang ombaknya terganas…”…..

“Namun saat ini…mungkin telah menjadi titik balikku….”

“TITIK BALIK KAPTEN?”"mamaRisto ternyata menyimak obrola kapten dan para laki-laki penasaaran itu….
“KAPTEN YANG KUKENAL TELAH MENJADI LEMAH-KAH? Mama risto bertanya dengan wajah yang pura-pura bingung dan memegang dagunya..

“OH MAMAKU YANG CANTIK…TENTU TAK SEPERTI YANG KAU DUGA”…
“Aku tidak menjadi lemah…coba kau dengar dulu ceritaku. ” Ujar Kapten Klost perlahan….

Kapten klost menggaruk-garuk janggutnya..Mimik mukanya berubah menjadi serius
“Teman-teman, kalian tlah dengar ceritaku….Saat kau menemukan keasyikan pada laut…Kau akan terus mencari keasyikan yang paling mendebarkan untuk seluruh jiwa ragamu…”

“Pernahkah kalian ingin menikmati mimpi indah kalian sekali lagi?, itulah yang aku rasakan…..apapun akan kulakukan agar bisa mencapai mimpi yang terindah….apapun akan kulakukan agar bisa merasakan melayangnya angan dan jiwamu masuk ke dalam alam mimpi”….sehingga itu menjadi sebuah ketergantungan…..sehingga aku terus mencari cara agar bisa bermimpi……hingga akhirnya diriku menyadari sesuatu…….
“Merasakan ketegangan dan ganasnya laut adalah kebanggaan sempurna bagiku…dahulu….”
“Aku memang pelaut…mungkin beberapa dari kalian melihatku tidak memiliki rasa takut pada gulungan ombak..”….Mungkin rasa takut menjadi patokan yang membuat aku seolah handal….” Kapten klost meminum birnya sampe habis, “mama, tambahkan sedikit lagi bir hitam…”…

“Tapi aku sadar, cerita ceritaku di laut tidak bisa mengubah dermaga dan bar favoritku ini”…..Keinginanku di masa lalu hanyalah untuk memperoleh mimpi yang lebih indah…tantangan yang lebih indah…

“LALU KAU AKAN BERBALIK ARAH SEPERTI APA KAPTEN KLOST?” Ujar Milder, penjaga dermaga, yang sedang duduk di pojok mengenakan kaus singlet dan Celana pendek kulit….

“Aku hanya ingin membuat semua puas….itu saja…diriku sudah cukup puas dengan mimpiku…..aku hanya ingin orang lain pun puas dengan apa mauku…”

“Mulai besok, mungkin aku berada di darat…mempersiapkan perahuku…Aku ingin menjadi pemburu ikan paus”…Kapten klost menatap gelas birnya dan tersenyum tipis…

“Kkap tteen…kau serius? Baga..aima..nna ..bisa ??”…..Moore terkejut seraya bingung….

“BISA MOORE…HARUS SELALU BISA….percayalah padaku…..”…..kita hanya melaut sekali dengan hasil yang besar…dan bukan berupa cerita yang besar……

“KAPTEN KLOST AKAN MENJADI PEMBURU PAUS!! TEMAN-TEMAN…AYO KITA BERSULANG….HIDUP KAPTEN KLOOOSSTT!!!……

Cihuy…Ketika Semua menjadi penting!

Wednesday, May 10th, 2006

Subjek_fren

Sebuah pernyataan yang narsis bila kita masih menegaskan diri hidup di dalam jaman edan….yah betul, narsis. Narsis karena toh memang sekarang jaman edan…sehingga kita tak perlu mengulang keedanan itu di mulut kita… (Tetoongg!! mengulang kata e-d-a-n)….mengulang keedanan adalah sebuah kekonyolan…walau itu hanya dari mulut yang terucap..

Saat semua terasa konyol, maka semua tindakan serius terlihat seperti sebuah drama yang dipenuhi penonton-penonton yang skeptis, sehingga semua yang ada dipanggung terlihat tidak ideal….hoho,

Tak ada lagi posisi yang ideal dalam bersosialisasi. Semua ingin setara. Yap..betul, memang kesetaraan adalah bagian dari elemen keadilan. Tapi mungkin sebenarnya kesetaraan hanya diperlukan sebagai “pengikat” sebuah komunitas.

..tak lebih..dan tak kurang. ,…kesetaraan tak lebih dari “lem-nya” komunitas…

Mungkin hal itu lah penyebab dari kondisi edan suredan ini bisa terjadi. Semua individu merasa menjadi subjek, dan tidak berminat untuk menjadi objek. Semua individu ingin memainkan predikatnya…dan tidak ada yang ingin untuk memainkan predikat-predikat milik orang lain.. Semua ingin melakukan sesuai dengan caranya (predikatnya) sendiri, itu maksud saya.

Rasa keseteraan membuat setiap individu menjadi terasa terikat..dan keterikatan itu menjadi penting..shingga seolah keterikatan n berubah menjadi subjek bagi individu. Keterikatan menimbulkan rasa sakral yang bernama kebanggaan. Apabila individu telah bangga akan akan kesetaraannya, maka individu tersebut akan menjadi objek dari yang namanya kebanggaan. Dan ketika kondisi itu terjadi….Dhuar…maka dalam waktu yang tak lama lahir sebuah system. sistem adalah predikat yang mengatur individu dan mengikatnya dalam sebuah rasa kebanggaan (yang tak terasa berfungsi sebagai subjek)….…..dan fantastiknya….yang membuat system adalah objek-objek individu itu sendiri…

realita dan priistiwa yang ternyata dibolak balikkan oleh individu…artinya…secara tak sadar..egosentris dan subjetifitas ternyata membuat kita secara tak langsung memperbudak diri kita sendiri di dalam sistem..huhuhu..shit..

Subjek–>Predikat–> Objek, adalah peristiwa yang dibilang aktif (kalo dalam kalimat disebut sebagai kalimat aktif), dan Objek–>Predikat –>Subjek, adalah sebuah peristiwa yang dibilan pasif…

Lalu siapakah yang harus menjadi Objek Sebenarnya , saat orang-orang orang berusaha saling rebut untuk menjadi subjek, dan bersama-sama menempatkan diri secara tak sadar menjadi objek dari sebuah aturan tertentu…dengan ego subjektifitasnya….??

Hidup memang membutuhkan keseimbangan..
Hidup memang membutuhkan yin dan yang
Hidup memang membutuhkan Predikat..agar jelas posisi kita…agar jelas orang melihat kita….

Semua ingin menjadi sempurna…smua merasa ingin menjadi manusia…padahal…yang kita butuhkan hanya sedikit objektifitas dalam memecahkan masalah……

Saat Dokter dan Pasien Sama-Sama Sakit

Monday, May 8th, 2006

Rpraktek

Tadi sore, saya pergi ke dokter. Sudah dua hari pinggang ini terasa sakit, apalagi apabila saya jongkok..terasa agak ngilu. Makan nasi pun terasa hambar.. Kalo mendengar obrolan dari teman-teman, gejala sakit ini memang agak mengerikan, katanya gejala seperti itu menandakan ada gangguan di antara hati atau ginjal.

Setelah sampai di tempat praktek dokter. Saya menanti setengah jam untuk menunggu giliran. Dokter yang saya datangi ini Dr. Mezosopian namanya, dan dia adalah dokter umum. Tempat prakteknya ga terlalu besar, dan terletak di daerah gang. Kondisi tempat prakteknya terlihat bersahaja sekali. Sepertinya dia mengontrak tempat ini, karena kotak pos di gerbang rumahnya masih bertuliskan Rd. Brotowirah, Ketua Rt Kampung Citogel, tempat saya tinggal.

Akhirnya saya dipanggil masuk ke ruang dokter. Masuk ke ruang yang ga terlalu besar, sekitar empat meter kali empat meter, dan bercat warna warni. Sang dokter sedang terlihat membungkuk di depan wastafel untuk mencuci tangannya.

Hmm..ternyata tampilan luar dan dalam ruangan berbeda sama sekali. .. Ruangan dokter yang terlihat apik, dengan ranjang pasien yang sederhana dari kayu, terasa sangat genah sekali. Saya sedikit lupa dengan sakit pinggang ini…hehe.

“Sore pak, apa yang bisa saya bantu?” Dr. Mezosopran menyapa ramah diri saya yang masih melongo melihat langit-langityna yang dihias lampu-lampu kecil yang unik….

“Saya sakit Dok, sudah dua hari pinggang ini terasa nyeri”..Saya berkeluh
“Hoho..untung Bapak cepat kesini, Silakan pak naek (ke ranjang periksanya maksudnya..), Saya cek dulu”…Kata Dokter Mezo sambil memasang stetoskop.
“Hmm…” sambil menggerak gerakkan stetoskopnya di daerah uluhati dan pinggang saya, Dokter Mezo bergumam, “Oke pak, sudah cukup, silakan duduk”,

“Gimana Pak, apa ya penyebabnya?”Saya bertanya penasaran
“Anda akhir-akhir ini sedang sedang mengerjakan apa pak?”Tanya dokter
“Oh, apa ya pak, yang pasti saya sekarang sedang mengerjakan kerjaan biasa, bikin seting ruangan, saya ini dekorator pak”, Saya menjawab..

“Oh, menarik sekali, saya juga sangat tertarik dengan dekorasi ruangan, mungkin kita bisa kerjasama kapan-kapan”…bunyi Dokter Mezzo sumringah..
“Oh, ya pak, tentu, kapan-kapan…”…Saya membalas

“Ini Pak resepnya,…Ini kartu nama saya,..Saya juga punya toko bahan bangunan di daerah cipadu lo Pak, sapa tau bisa jadi tempat pembanding Bapak”..tutur Pak Dokter sambil cengengesan..

“Hoho…boleh-boleh Pak,..nanti saya kesana, jadi saya sekarang bayar berapa nih Pak”…Saya bertanya dengan polos

“Yah…seharga 2 batang besi beton 10 mili aja pak..” Ujarnya tersenyum…
” Hahahaha….oke pak…., sekarang besi 10mili berapa ya pak?” Saya ketawa ..tapi bingung , sambil garuk-garuk kepala…hehe

“Hahahaha… ya udah…dibulatkan saja…80 rebu pak”,Jawab Pak Dokter seraya tetap cengengesan…

Saya keluar…menebus resep di apotek sebrang tempat prakteknya…Resep itu ternyata ditukar dengan 12 butir tablet yang harus diminum 2 hari sekali…dan harganya sama…80 rebu…..sama dengan ongkos prakteknya….

Hari sudah larut…
Saya masih menikmati sisa-sisa perjalanan di gang menuju tempat saya tinggal, rumah kecil namun asri…

Saya masih teringat…dokter yang merangkap pemilik toko bangunan…
terasa aneh bagi saya….dimana letak sambungan ilmunya…yang saya mengerti hanyalah dia tau taste penataan..
karena ruangannya sangat mengesankan…dengan ruangan yang tertata rapi…kesan ruangan yang berbeda daripada saat melihat bangunan luar tempat prakteknya…

Hehe..hari yang membingungkan….saat rasa sakit pinggang hanyalah seharga empat batang besi beton 10 mili….
…mungkin kalo sakit kepala seharga kolom beton…..mungkin kalo sakit lebih parah seharga satu unit rumah beserta interior

….tapi yang anehnya……tapi kenapa jasad manusia yang meninggal cuman seharga nisan…dalam kata lain…bila kita melihat nisan…kita jadi membandingkan antara kenyataan sekaran dan memori masa lalu dari jasad itu……ga sebanding sama nisannya…..kenapa ga ditaro istana diatas kuburan kita….kenapa hanya nisan….

semakin kita sering membandingkan…mungkin kita akan semakin sakit…sakit jiwa ….karena hidup terlalu absurd untuk disimbolkan dengan materi……

..mungkinkah orang sakit adalah orang yang sedang membandingkan dirinya dengan “sesuatu”??…”sesuatu” yang mungkin hanya dirinyalah..atau hanya alam bawah sadarnya yang tahu…….??

RuMaH ruMah Tanpa Dinding….

Wednesday, May 3rd, 2006

Cesar1

I. Episode 1: Ritual Lampu Menyala

Sudah tiga hari lamanya adikku Cesar tidak keluar kamar…Kamarnya sendiri terletak di belakang rumah, dikelilingi dengan jendela-jendela besar .. seperti akuarium namun tertutup tirai ….Lampu belajarnya tampak menyala, dan hal itu berarti…dia sedang mengerjakan sesuatu….yang pasti bukanlah sesuatu yang haram

Biasanya, kalo lampu itu sudah menyala, ada saja yang bakal dia bikin,..Apakah itu lukisan, desain-desain , ataupun karya-karya seni lain yang biasanya enak dipandang mata…kadang ada musik dengan volume kecil yang sayup-sayup terdengar…kami orang rumah tahu tentang kebiasaannya,

Orang rumah sudah memahami kebiasaan adikku. Dan satu kebiasaan lain, jika hasil karyanya itu tidak terlalu besar, pastilah bakal ditempel atau tergantung di dinding bata ekspose yang ada di teras belakang, teras yang menghubungkan bagian dalam rumah dan kamarnya yang mojok di sudut belakang…Namun jika karyanya besar, seperti layangan kubus 1m seperti waktu itu…biasanya diletakkan di taman belakang…lengkap dengan dudukan yang dia buat sendiri

Sudah kira kira 24 barang yang ditempel dan digantung. Dari lukisan cat air ttg gambar bidadari berkepala gajah yang turun melayang dari kandang burung yang tinggi (ini karya pertamanya 4 tahun yang lalu…dan dia menggambar ini ketika gagal masuk ITB)..hehe…aku suka geli jika inget kegalauannya sampai menciptakan karya itu. Lalu ada lagi karya dia berupa botol kecap, botol saos, dan mangkok Baso yang dia tempel secara vertikal, tegak di dinding…..bisa-bisanya dia bikin model baso, beserta mie–mienya yang begitu seperti asli…katanya dia lagi iseng mencoba-coba bahan resin…dan karyanya yang lain-lain….hmm…terserah lah…gw ga begitu interes dengan apa yg sedang Cesar pikirkan,, cuman karyanyalah yang membuatku selalu penasaran..

Karena karyanya itu yang selalu mengagetkan namun menghibur, maka orang-orang rumah ga banyak tanya lagi… malah cenderung penasaran sampe jadi bahan obrolan di ruang makan ketika keluarga semua berkumpul di pagi hari…tentunya tanpa kehadiran dia…karena dia tahan untuk tidak keluar kamar selama berhari-hari sampai karyanya selesai…biasanya sebelum melakukan "ritual" lampu menyalanya, dia sudah menyiapkan logistik yang lengkap, dari minuman kaleng dan galon akua, sampe dengan makanan2 ringan dan indomi!….wajar saja kalo dia merasa nyaman di kamarnya..karena di kamar berukuran 4m x 5m berkamar mandi itu terdapat kulkas dan kompor listrik…Dengan peralatan seperti itu,..sudah sangat cukup bagi Cesar untuk melakukan "ritual"….

Keluarga kami memang seperti itu, cuek namun tetep terbuka dan tidak saling ngeledek..Karena dari kecil kami ditanamkan prinsip oleh ayahku yang mantan guru… "Kalian adalah badan kalian, Nama kalian adalah karya kalian, jangan cubit badan orang lain hanya agar orang lain tau nama kalian, karena mereka akan menilaimu, mengingatmu, dan menamaimu sebagai monster tangan yang mencari korban dengan mencubit"…..hehe…prinsip yang aneh sebenarnya…namun sangat dalam….

Sudah hampir memasuki hari keempat….Namun lampu kamar masih tetap menyala…..Rasa penasaranku kadang membuat aku suka mengintip dari jendela ruang keluarga seraya terbawa dalam lamunan…kapan lampu itu mati..hehe….lamunan atau harapan..aku tak tau pasti ..yang pasti sih rasa penasaranlah yang sering menyelimuti ketika hal ini terjadi lagi….

Lampu-lampu yang menyala..mungkin seperti pertanda harapan yang lagi menyala-nyala di kepala dan hati adikku, Cesar., Aku teringat dengan cerita Harry Roesli, yang memiliki pesan terakhir untuk tidak pernah mematikan lampu kerja di worshopnya (di Bandung)… Betapa idealisme itu terlihat seperti lampu pijar yang menyala-nyala, bersatu dengan harapan akan tuntasnya setiap langkah dalam berkarya…Idealisme yang terlihat seperti ajimat saat tlah berwujud karya, yang memberi arti lebih dari hanya sekedar bentuk, yang memberi arti lebih dari sekedar sejarah pembentukannya, bahkan bisa memberi arti lebih dari hanya sekedar untaian waktu yang harus dilalui dari sebuah proses ber-idealisme… Lorong-lorong di rumah, tempat adikku biasa menempelkan karya-karya kecilnya, menjadi analogi ruang waktu yang harus kita lewati seraya melihat mozaik-mozaik karya yang seolah bersinar, menembus ruang dan waktu, tanpa ada penghalang…

Pilihan_lain

II. Episode 2: Katakan Saja "Tidak! Aku Punya Pilihan Lain!" Ketika Kita Tak Bisa Melangkah…

Di hari kelima, Minggu pagi saat itu, aku bangun dan berjalan perlahan di koridor rumah….kulihat lampu kamar Cesar masih menyala…namun pintu kamarnya mulai sedikit terbuka…

Sambil makan roti bakar kornet yang kubuka sendiri, aku berpura-pura batuk…"Uhuk! Uhuk"….seraya tetap berjalan perlahan…

..tiba-tiba

"ERman, masuk bentar…tolongin nih!"…Cesar memanggil,

"Ade ape?", balasku,kaget….baru saat ini Cesar memanggilku dengan pd seperti itu.

"Sini bentarr!" Jawab Cesar agak berteriak..Aku masuk ke kamarnya dengan perasaan canggung..
"Man, gw pengen bicara…"…kudengar sebuah suara yang agak melemah..Cesar duduk di dipan lipatnya yang sempit sambil memutar-mutarkan pinsil arangnya…
"Ade ape bos?" Jawabku…

"Men..maapin gw nih…hehe…"slorohnya sabari cengengesan…"Men..gw pengen ngomong nih..terus terang", tutur Cesar..

"Ya udah ngomong aja bos!?",jawabku masih dengan mimik bingung. Cesar dari kecil tak pernah mengajakku bicara2 mata…kami selalu lebih sering bicara saat kumpul keluarga…itu pun sekedar basa basi cengengesan..

..Bagiku, adikku ini semacam orang yang paling misterius yang pernah kutemui…

"Lu bareng gw dari gw lahir pan…lu dah tau kan tingkah laku gw…kalo gw dah mengurung diri kayak gini…gw biasanya lagi ada pikiran yang akhirnya bisa gw wujudkan di benda-benda….karya-karya…yang bisa nunjukkin atau setidaknya ngingetin, itu karya waktu gw bla bla bla bla…….dan kadang memang hal itu membuatku bangga"….sautnya perlahan,

"Hmm…so..?"..Jawabku berusaha untuk mencoba masuk ke masalahnya…masih dalam suasana hati yang bingung

"Kali ini fikiran gw tak bisa gw tuangin dalam karya-karya Man…, Gw mentok!"…Suara Cesar mengeras, seraya mematahkan pinsil arangnya…"Tiga hari gw mikir apa yang harus gw lakuin, karya apa yang harus gw bikin untuk pelampiasan pikirang gw…hmm tapi mentok Man!, Suer…", Cesar berkata seraya tertunduk.. rambutnya kusut…mungkin kali ini dia tidak mandi selama di dalam kamar…

"Memangnya lu lagi mikirin ape Sar?", Tanyaku.."Gw kan jarang ngobrol sama lu, tiba-tiba lu curhat gini, gw kaget juga…tapi ya namanya orang serumah, masa iya gw harus cuek kalo ada yang butuh bicara kaya lu gini"…Kataku dengan sok bijak…

."Beneran men…gw sih nganggep lu orang nyentrik,..disisi lain, menurut gw sih lu itu punya otak, dan sedikit kreatip,..eh..beneran kreatip dah brur, kreatipnya banyak", Aku berusaha mencairkan suasana…

"Kalo gw liat dari karya2lu itu ….Otaklu itu mirip gurita…yang bisa mikirin apa aja, terus dirangkai jadi satu dalam sebuah karya….dan sebenernya..biasanya kan orang kayak elu tuh ga suka curhat kaya gini bos? , lha ini..tiba-tiba orang misterius ini kok curhat…hehe"…Aku berusaha memancing sedikit penyebab kementokan berfikir adikku ini…

..Seraya memainkan rambutnya yang sedikit galing, Cesar mikir sebentar dan berkata, "Gini Man, Gw mikir kebanyakan kali yak…tepatnya gw lagi pusing sama masalah gw sendiri, pola hidup gw sendiri…gw sadar gw tertutup…gw ngerasa gw ga butuh yang lain untuk teman berfikir gw…kadang gw merasa terbelenggu disini…kadang gw ingin keluar dari rumah ini…Ga tau man, tapi gw masih tak ingin kehilangan orang-orang disini…Gw keluar, gw bakal kehilangan orang2 yang gw kenal Man…." hehe…Cesar menatapku…tumben nih anak cengeng…

"Jadi mentoklu itu di sebelah mana bos?"…Tanyaku lagi…Orang kaya gini memang butuh banyak ditanya…lawong pernyataannya itu bagiku agak tidak realistis…

"Gw ga bisa berkarya, karena gw merasa terlalu banyak dinding yang membatasi fikiran gw…gw merasa trauma kalo ngeliat dinding …gw tak ingin dikurung.., Gw pengen lebih bebas lagi.."…Cesar bernarasi seraya berdiri menuju lampu meja nya…

"Hoi..Sar,…." sautku,…." Lu jangan matiin tuh lampu,…"

"Lampu ini bikin gw silau bos"…ketus Cesar, " Kayaknya kalo gw matiin gw bisa lebih tenang"..

"Sar..sini gw kasi tau…Terus terang, kite sekeluarga memang takjub ama kelakuanlu…tapi kita ga pernah berusaha untuk mencoba bertanya-tanya tentang kelakuanlu itu….Lu mungkin masih inget prinsip yang diajarin bokap kite….jadi gw kaget juga lu curhat kaya gini…jadinya gw kepaksa deh komentarin kaya gini…" tuturku "Jangan matiin tuh lampu…" tegasku

" Ga tau lah men..gw bingungn..mungkin gw lagi butuh ngobrol dari hati ke hati"….tuturnya perlahan

"ehhehe…Gw jadi inget. Cesar…lu tu tuh lahirnya aja dah beda sistemnya dari kita semua…makanya namalu kayak gitu…Cesar…..jadi kita sekeluarga ya ga aneh kalo gedenya lu berkelakuan beda kayak gini…tapi terus terang…ada satu hal yang mengikat gw dengan lu selain hubungan saudara,…Inspirasi lu Sar…dan itu terlihat di mata guwe.. saat lu nyalain lampu meja ini…Bagi gue saat itu lu pasti berkarya ya kan?….terus terang, saat lu nyalain lampu…kok gw ikut berharap lu bisa ngasilin sesuatu…terus seperti itu Sar…Itu yang mengikat memori gw sama lu…Lampu itu bagi Gw sih harapan cerah lu yang kita, orang rumah ini pahami"..hiburku

"Tapi mungkin ada saatnya ketika akhirnya lu harus sampe tahap seperti ini….Lu ga bisa berkarya lagi..Lu mentok..Ya menurut gw sih, lu nikmatin aja saat-saat mentok ini…mungkin lu butuh interaksi lebih ke dunia luar..lu memang terlalu tertutup..terlalu terkurung……Lu butuh memanjangkan tentakel-tentakel di otak lu..Mentok itu berarti lu punya batas…dan betapa menyenangkannya saat kita sadar bahwa kita punya batas, dan batas itu kan sebenarnya hal baik bagi elu…sebagai orang yang suka sok mikir….Kalo lu merasa terbatas, seharusnya lu anggap lu lagi mendapat tantangan Sar…", Tegasku

…Dan satu hal pesen Gw ,lampu meja lu ga boleh dimatiin saat lu belum menghasilkan apa-apa, sebelum lu memecahkan tantangan itu…cara mecahinnya..yaaa lewat karya-karya lu itu"…Ingatku kepadanya…"Jangan hilang harapan men….harapan itu energi yang terkuat untuk lu berkarya…dan kita orang rumah senang kalo lu masih punya harapan"…

"Pikiran gw masih mentok nih Man!, tanya Cesar sabari bingung..

"Lu mentok karena lu merasa terbatas", sela ku diantara kebingungannya…"Mungkin gw punya saran buatlu…tapi ga tau berguna apa nggak…..Mentok pasti terjadi..adalah hal yang biasa terjadi…Kalo lu ingin merasa bebas, ga mentok…Lu harus sadar diri men!?’

"SAdar diri? gw ga hilang ingatan lo brur?" Cesar bertanya penasaran…

"mentok berkarya itu ada penyebabnya…dan ada artinya….kadang bisa berarti ada yang ga sesuai…antara rumah tempat perasaanlu bekerja, dan rumah tempat pikiranlu berputar…….rumah itu berarti batas…teritori diri kita……….Kadang rasa dan pemahaman kita tidak sesuai dengan rrumah yang kita miliki…kadang rumah itu terlalu besar..sampai seolah lu merasa kesepian…kadang rumah itu terlalu sempit…sehingga pikiran dan perasaan kita terasa meledak ledak dan tumpah ruah bercereran dimana-mana…kita merasa apa yang kita pikirkan menjadi ga berguna… tuturku..

"perasaan itu sangat terkait dengan suasana….Kadangkala kita merasa dalam rumah yang luas dan bisa bebas bergeraks…dimana kita bisa berlari sepuasnya"… ceramahku..dengan tangan digerakan ala orang deklamasi….

" Sar….Manusia itu harus punya rumah…harus punya teritori…Karena di rumah dan teritori , kita bisa kembali ke titik Nol..saat dimana kita merasakan kehadiran diri ini…namun kehadiran diri kita sendiri itu seolah bukan bagian dari apa-apa…disanalah kita bisa punya identitas…"tambahku …

"Identitas?..buat apa gw punya identitas? Tapi bener juga..gw saat ini ngerasa bukan apa-apa…"Cesar ragu…

" Baguslah kalo perasaanlu kayak gitu..Lu tau kenapa kita harus kembali ke titik 0..lu tau kenapa kita harus punya identitas?…Karena di titik Nol lu bakal bisa bersyukur….Lu bisa tau arti kenapa lu diciptain….Lu bisa tau hal-hal baru yang ga bakal lu duga sebelumnya….Lu bisa deket dengan Yang Nyiptainlu….dia banyak menciptakan tanda-tanda disekitar kita,…Di titik Nol….Lu bisa menikmati kenikmatan yang tiada tara…."…Aku menjawab serius

"Kenikmatan tiada tara?..hmm…gimana tuh..Lu pernah sampe sono?"….Cesar penasaran…

"Hmm..ga tau juga…gw pernah punya pikiran kaya gini…kenapa gw solat..kenapa gw harus inget Tuhan di 5 waktu…yaa..karena kalo dipikir-pikir…saat saat tertentu …gw suka nangis sendiri bos…nangis karena merasa syukur….syukuuuur banget…gw ngerasa hidup dirumah yang sangat indah…di rumah yang tak berdinding…..gw dikasih kenikmatan pemandangan tanpa batas…dan kadang gw bersyukur gw dikasih kesedihan diantara pemandangan yang gw lihat….karena lu tau…dengan hal-hal seperti itu gw bisa belajar…gw bisa TAU LEBIH hal2 yang ga gue tau sebelumnya…..

"itu adalah sebuah berkah yang tak terkira Sar…makanya gw menangis….-di saat-saat tertentu gw merasa menjadi bagian total alam semesta…merasa berada di titik 0….bahwa gw merasa bukanlah apa-apa…namun dikasih kesempatan untuk menikmati hidup yang dipenuhi hal-hal  baru nan hebat yang kadang ga gue ngerti……dan hal itu kadang muncul di keseharian kehidupan kita…Mungkin solat adalah cara Tuhan mengingatkan secara tidak langsung untuk melakukan dan menikmati perasaan indah itu…, minimal 5 kali sekali lah.bos, "…serius ku..

" Lu dalem juga Man, gw ga nyangka"…Cesar menoyor…

"Heh..sopan lu ama abanglu!!…Ya…ga dalem lah."Kataku…, "Trus menurut gw…lu bikin tuh batasan-batasan yang lu rasa menghalangi lu itu menjadi seolah halang rintang yang harus lu loncatin….rumahlu tak perlu berupa rumah-rumah yang berdinding…biarkan rumah lu itu seperti tempat lu untuk cukup berteduh….rumah tanpa dinding…dengan pemandangan yang bebas..dengan tanah yang seluas mata memandang..lu bisa melihat kemana-mana….

"Dan lu tau…rumah sejatilu adalah sebenarnya bukan rumah harafiah yang lu liat di depan matalu….rumahlu sebenarnya adalah hatilu…..tempat lu berteduh….jangan bikin dinding di hatilu…lu pasti bakal tersiksa…mungkin juga lu mentok karena lu merasa ada yang membatasi dirilu…Hati kita ini sebenarnyaluas banget men…"

"dirilu sendirilah yang membuat batas-batas di hati…. Ayo bos …kembali ke titik 0, biarkan hatilu tak berdinding…biarkan dia melihat alam semesta…biarkan dia menjadi titik-titik 0 di belantara semesta…." Ku berusaha berucap serius…

Cesar garuk-garuk kepala….

"Kok gw jd terharu bos!?, hehe…tengkiu ah bos…tolong keluar…gw sudah ada ide bikin karya lagi"…Seru Cesar seraya cengengesan…
"Geblek…ya udah gw keluar…". Ku tutup pintu kamarnya…kubiarkan dia asik di kamarnya….lagi…

Menyamar di air keruh..hehe..

Monday, May 1st, 2006

Prahu

“Saya kira semua orang tahu, saya itu paling dekat dengan buruh. Saya tadi langsung terjun ke lapangan tapi menyamar tidak berpakaian seperti menteri,” kata Erman di Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (1/5/2006) malam……..(sumber detik.com 1 mei 2006)

Jadi inget cerita raja-raja di buku dongeng…ketika raja sering menyamar di tengah rakyatnya ..agar mengetahui isi hati rakyatnya…
Kalo dibanding-bandingkan…rasanya agak geli juga… ada 2 hal yang membuat cerita Pak Mentri menjadi menggelikan..yang pertama ..dia bukan raja…dia adalah pembantu raja…pembantu raja saja sudah senang menyamar…lalu rajanya senang ngapain?….menghilang??..hehehe…. mudah-mudahan kejadian ini masuk daftar sentilan Republik BBM (Acara parodi politik di Indosiar)….

Hal yang kedua…apa perlu menyamar di jaman keterbukaan seperti ini?…ketika semua keinginan rakyat sudah terpampang besar sekaliii…1m x 6m untuk spanduk yang dibawa bawa para demonstran…atau yang lebih tragis lagi…baligo2 iklan rokok..”tanya-ken-apa” itu kan sebenarnya kan protes halus masyarakat juga…dan sangat sering kita dengar dan lihat….lah!!..kurang keras gimana coba..keinginan rakyat yang segitu dahsyatnya..masih ga di “mudheng”i sama para pamong itu…apakah mereka budeg?..sampe keinginan rakyat pun masih belum terdengar?…sampe harus menyamar segala untuk mendengar orang-orang yang berteriak agar derita mereka didengar..sedikiiiit saja……sedikiiiitt…saja…(jadi ingat dialog pelm 30 hari mencari cinta..saat nirina zubir marah ke pacarnya–rocker ketombean– di pinggir kolam air mancur)..

Kalo dipikir terus…kayaknya ga akan ada gunanya…toh ngapain juga kita mikir hal-hal tolol dengan serius..sehingga dahi berkerut…..kecuali kita memang sedang berusaha untuk belajar menjadi bodoh….

Demo buruh hari Senin berakhir dengan sukses…demo hanya berlangsung sampai tengah hari..karena ada jaminan dari komisi IX DPR untuk tidak akan merevisi UU tenaga kerja….dan jalanan pun di sore hari lancar kembali..
Buruh bisa kembali dengan tenang ke rumahnya di pinggir-pinggir kota…
mereka tak tahu harus berkata apa lagi selain rasa syukur bisa bekerja dengan tenang…
seperti ikan yang berenang di air yang tenang di telaga… ..yg saling bercengkrama…

Nah, saya jadi ngebayangin hal indah…..Mungkin jika sang menteri bisa menyamar di keadaan tenang…dan bercengkrama dnegan buruh sehingga tau kebutuhan dan keprihatinan sang buruh… keadaannya mungkin bisa lebih antisipatif,komunikatif, dann iinteraktif…tdiak seperti sekarang yang defensif, masif, dan sok atraktif, seperti saat ini…(fffff….fuih…banyak f nya yak)

Bukan sang ikan yang membuat keruh…tapi manusia yang ingin memakan ikan-ikan
lah yang mengeruhkan telaga…..