"Horeeee….!!!"
Ada teriakan yang terdengar di balik tembok kebun rambutan, sepertinya ada yang sedang berbicara,…tapi berbicara sendiri….terdengar sayup, namun cukup jelas di gendang telinga..
Suaranya seperti pernah kudengar. Hmm..yap, suara badut yang menghibur anak pak lurah di rumahnya kemaren sore. Kebetulan kemaren aku datang minta tanda tangan pak lurah, tanda tangan untuk surat kelakuan baik biar bisa ikut tes cpns.
Siapa lagi badut di desa ini , ya pastinya dia si Imran…sosok yg selalu terbalut hitam bila terlihat di kampung…
………"Imran* masih hidup euy…gw masih hidup euuyy,….hidup di dunia yang tidak membutuhkan "kehadiran" sosok i-m-r-a-n,sosok gw…namun hanya membutuhkan kehadiran "karya imran–imran’s portofolios", dengarku pada ucapan2anya dalam kesendirian.., seperti suasana orang yang sedang berlatih drama…
Suara itu datang dari gubuk kecil di kebun yang tidak terurus. Terletak di tanah yang lumayan luas,seluas lapangan voli, namun rumah itu hanya dikelilingi pohon lamtorogung dan sayur bayam yang sudah tinggi-tinggi…
Hmmm..aku memberanikan diri tuk mendekat ke gubuk Imran, menginjak beberapa tumbuhan sayuran, yg sepertinya memang sengaja ditanam….aku berjalan menuju dinding samping, didekat jendela kusamnya,…
….kudengarkan lanjutan lonely talksnya imran , "…akhirnya gw mengetahui posisi diri ini sebenarnya…..who’s the hell i am??…i’m snothing for now… so that’s why i always wear black….biar semua ga bisa melihat sosok gw….dan memang bukan waktunya untuk melihat sosok gw yang sesungguhnya saat ini…" Kudengar sebuah keluh di balik jendela kusam..hehe..aku jadi penasaran untuk nguping kata-kata selanjutnya…
…"gw baru bisa menyalurkan keinginannya di sebuah karya di hadapan audience panggung kecil,yang direncanakan jauh hari…bukan di sebuah realita yang komplek, luas dan berhirarki laksana di keraton.." Dia terdengar sedang memukul-mukulkan sesuatu ke dinding…mungkin saja dia lagi ngusir semut yang merayap di dinding, karena aku tak sengaja tergigit semut karena bersandar di jalur semut yang ada didinding. Dan jalur semut itupun masuk ke bagian dalam rumah…hehe..dasar gw sok tau…
Sambil mengibaskan tangan, mengusir semut yang nempel di baju, aku pun mencoba menguping lagi…..
….menarik juga isi curahan hatinya.. …..sabari terus mendengarkan monolognya…….
"Huh realita…sampai kapan kau memaksaku untuk terus menghiruf udara, mengeluarkannya…dan terus berbuat,sampai kadang2 diri ini merasa bodoh melakukan hal yang terus menerus"…..Ketus imran. "Hai kenyataan,adanya aku tak kan ku sesali, namun perbuatan tak terfikir kadang terasa seperti tulisan-tulisan tak terbaca di bungkus kacang", "realita semprul".
…hahaha…pernyataan Imran kali ini benar-benar membuat hati terasa geli….
..Hmm Imran mengingatkanku….bagiku, realita yang sebenarnya bagaikan kumpulan naskah skenario yang harus dibaca dan diperankan di panggung2 kecil yang bertebaran secara acak di sebuah pasar rakyat. Tidak di dalam sebuah bangunan khusus pertunjukan teater, tapi dalam ruang2 yang dihubungkan jalan2 dan keramaian ,. Semakin jauh kita melihat ruang ruang penyimpanan itu (bayangkan kita melihat panggung2 itu diatas bianglala)…semakin berbentuklah ia,ia seperti mapping desain-desain post modern namun terkomposisikan rapi, dan mengundang keramaian …
… skenario-skenario yang ditampilkan di panggung2 yang tersebar acak. Namun uniknya, skenario2 itu memiliki satu tema dan ada yang membuat tema itu……….semuanya sesuai dengan pasar malam yg berlansung meriah, peran senang diperankan badut, peran sedih diperankan para wanita yang jadi target ahli pisau, dan peran misterius diperankan oleh para peramal2 gipsi…
. Mungkin bagi Imran Tuhan adalah Sang Pembuat Temal itu…seolah baginya realita itu tersusun dari kumpulan kalimat sakti orang-orang penyelenggara pasar malam yang digabung dalam sebuah kitab Sang Pembuat Tema…bisa jadi orang orang penyelenggara pasar malam versi imran adalah wakil-wakil atau ceceran2 kitab Tuhan yang sebenarnya di muka bumi,hanya remehan dari kitab-kitab perkataanNya..(….khalifah di muka bumi…Istilah Al Qurannya)….hehe…ledakan kecil pemikiran dari otak yg sok tahu ini berusaha menginterupsi sebuah suasana monolog yg mengharukan di balik jendela…. Lalu kudengar lagi suara yang agak menyerak…mungkin Imran butuh minum air putih, mungkin tenggorokannya kering karena ngomong sendiri ….hehe….
…" Dan realita pun sebenarnya adalah persetujuan, dan kesepahaman antara orang orang penyelenggara pasar malam yang bisa mengubah dunia malam….dan Tuhan yang duduk di singgasana langit pun tinggal menunggu syukur mereka atas pemahaman mereka yang merubah realita, dan hal itu selalu berulang dengan lucu….", Khayal konyol Imran yg terucap di bibirnya, sangat nyambung dengan apa yang kubayangkan…
Aku jadi berusaha berkhayal sekaligus mengingat sesuatu….
terlalu berat untuk berfikir tentang realita, namun realita mudah sekali untuk disimbolkan…orang sangat mudah untuk terjebak dalam simbolisme…..SEtiap pemikiran seolah-olah memiliki akhir yang berupa simbol, atau bentuk. Bahkan kadang2 Tuhan pun menjadi sebuah simbol dan bentuk, sebuah tanda akhir pemikiran manusia…pemikiran yang mentok manusia untuk memikirkan sang hakikat tertinggi.
….mungkin simbol simbol realita versi imran hanya berbentuk balon…balon adalah sebuah simbol keriaan, simbol anti kesedihan,…….Imran mungkin masih senang menggenggam tali balon balon berisi mimpi2 yang memanipulasi jadi realita…..yang membuat Imran badut pemimpi yang bersemangat…yah..badut yang ingin menjadi penghibur dan ingin terlihat dengan "kostum kostum" yang eye cathing… yang ingin didengar kata-katanya….seraya ia memegang balon2…
"Gwtelah berbuat bodoh, mungkin ku terlalu banyak berkata di pesta ulang tahun kemaren. Gw terlalu banyak cerita tentang kemana balon terbang, padahal audience panggung kecil pesta ulang tahun tak peduli mu kemana balon itu terbang. Audience hanya butuh hiburan agar tidak beranjak. Mana sempat ia melihat arah balon yang terbang ke angkasa bebas"……ternyata para audience pesta ulang tahun tak ingin melihat badut-badut tanpa topeng yang berakata-kata,…mereka hanya tertarik pada badut-badut yang pandai menari..pandai memainkan permainan…dan pandai menjadi badut yang benar-benar badut…
hmm…
aku mendengarkan sebuah tawa kecil…
"Hihihihi….andaikan Imran bisa menjadi badut-badut yang profesional… suatu saat mungkin saja dia akan jadi "para penyelenggara keriaan, para penyelenggara pasar malam", para pengubah realita….., orang-orang yang dipandang fokus untuk terus melucu di hadapan audience……saat itu pastinya semua audience telah tercandu oleh memori-memori karya-karya lucu tindakan si badut, dan semua secara perlahan berubah menjadi sebuah skenario di dalam kepala, skenario-skenario yang berkumpul di setiap audience panggung kecil. Mudah mudahan kumpulan skenario saat ku jadi badut, bisa menjadi bagian dari kumpulan skenario acak yang bernama realita,…..sehingga setiap laku badut pun telah menjadi lukisan-lukisan memori hidup yang tak lekang oleh waktu,sehingga tak perlu tau sapa yang dibalik topeng kostum, tapi audience hapal badut ini lucunya edan, yang ini slapsticknya edan, semua yang dibalik kostum adalah sebuah kenisbian dan kehampaan yang hidup, hanya sebuah ruh…dan kostum ini adalah nafsu yang merupakan bumbu yang terasa…………mungkin begitulah arti sebuah pekerjaan yang penuh kelucuan ini..", Tawa Imran, dan ku dengar langkah langkah yang semakin cepat..sepertinya dia sedang melangkah dan mengambil barang-barang…..
"ya…aku ini badut, badut yang masih senang memegang tali balon", ujar imran
"sangat pantas ku tinggalkan gerombolan yang selalu mentertawakan diriku saat tak berkostum.." Suaranya mengeras, dan terdengar tegas
…"Akumerasa saat itu tidak pantas ditertawakan karna aku tidak sedang menjadi badut..aku hanyalah sosok berbaju hitam……aku tak tahan pada gerombolan, aku haru pergi dari gerombolan orang2 yang hanya bisa terhibur oleh ingatan-ingatan….dan bukan realita yang ada di depan mata"…."mereka tidak bisa mentertawakan ruhku,apa yang mereka bisa lihat dari ruhku?", Dengarku sambil berusaha melihat ke belakang, sapa tau tingkahku yang menguping di jendela rumah orang bisa membuat orang menyangkaku yang tidak-tidak, sepertinya kata-kata imran terputus,..kerongkongannya kering mungkin
" Kau tahu cermin ..kini Imran yang seorang badut pun menyiapkan semua peralatan untuk berkarya….kostum yang eyecathing,…makeup tebal..dan topi-topi lucu….dan kostum hitam2 yang melapisi kulitku pun tertutupi kostum berwarna terang…."Nah…kini aku pantas ditertawakan kembali, wahai cermin….karena aku dibayar untuk itu"…ketus Imran . Rupanya dia bicara di hadapan cermin..
"Aku hanyalah karya ku,saat ini, aku adalah badut.. Tanpa berkarya aku bukanlah apa-apa,tanpa menjadi badut aku hanyalah kenisbian,… mereka masih membutuhkan karya ku untuk makanan nafsu mereka…ruhku hanyalah kegelapan dibalik kostum, yang tak dirasa penonton……biarkan karyaku menjadi warna-warna yang merasuki pikiran mereka, dan ingatan mereka……." lamun Imran…PREEEEEEETTTT!, weker terompet imran berbunyi …sepertinya dia mau pergi…sepertinya dia harus bertugas…karena kulihat dia berlarikeluar seraya mengenakan kostum badut…
======imran pergi, dan kini imran sedang membadut,======
nb:
Keesokan hari aku bisa berkenalan dengannya, ngobrol banyak…dan satu hal yang paling menusuk kalbuku,…ketika aku menemukan kitab yang sedikit kumal dan terselip ballpoint ditengah2nya….aku penasaran dan membuka kitab sucinya…dipenuhi tulisan-kecil…namun tak kumengerti… Namun ada satu kalimat dari tulisan Imran yg kubaca dan menusuk kalbu ..Ada sedikit tulisan imran di sudut bagian belakang kitab suci yang selalu ia baca di pagi hari…bunyinya begini…
" Hey Tuhan…engkau selalu memberikan tawa di tiap - tiap penggalan waktu…dan aku selalu tertawa ketika Engkau menunjukkan padaku bibit-bibit tawa di pagi hari, saat ku baru bangun pagi…dan tawa ini melingkupiku,dan membuatku hidup
"…Hey Tuhan….apakah Kau selalu tertawa dalam mencipta?, karena terus terang…alam mu penuh kelucuan yang menggelitik..sehingga aku selalu teringat padaMu"…