Archive for April, 2006

Selamat Jalan BUng Pram!!!!

Sunday, April 30th, 2006

Bungakuning_1Bunga mawar di hari Minggu… tersiram oleh air mata kehilangan..

warna-warna merah mawar ditaman  yang tampak indah, kali ini sendu dan mengajak pikiran untuk mengingat kesedihan…

kesedihan akibat rasa cinta yang tak ternalar oleh realita…

rasa cinta yang menjadi naluri bernarasi…

narasi dari sang pujangga raja naluri…yang terlalu kuat menantang waktu

wahai pujangga raja naluri…

engkau telah memberikan kami jejak-jejak emas yang penuh inspirasi…

kau tak memberikan pilihan pada kami…selain terus melangkah dan melihat realita..

kau tak memberikan pilihan pada kami…selain terus merasakan suara alam, dan merasa bahwa kebenaran selalu berpihak pada orang yang melihat…dengan hati….

cahaya timur itu telah terbenam di bumi barat..

dan meninggalkan bunga-bunga yang tersiram air mata..

dan kau biarkan kami menikmati gelap ini..

agar pada saatnya..kami bisa merasakan jatuhnya embun-embun dari langit gelap..

agar pada saatnya..kami bisa melihat bintang jatuh yang berpengharapan di bias belantara bintang..

tak perlu kami merasa dingin akan malam yang datang…

karena kami tahu…bahwa rasa hangat akan terasa pada hati yang berdansa dengan harapan…

karena kami yakin… mata selalu berpihak pada naluri……sehingga kelam akan sendirinya tak terlihat..dan terang akan menuntun mata tuk teriak memberi jalan…walau pun terang itu hanya dari bias cahaya belantara bintang yang jauh….

Jiwa kami adalah bidadari  bercahaya yang menemani  mata kami

Raga kami adalah kereta kencana  yang hantarkan kami

…. meresapi dunia ini….

selamat jalan wahai raja naluri

selamat kembali ke alam semesta….

Agar Hari Menjadi Lebih Berarti

Saturday, April 29th, 2006

Jek_nitib_2

Sabtu pagi jam delapan… weker berbunyi nyaring, bukan untuk membangunkan gw, tapi weker tanda gw harus nyuci baju….

Huahahahaha(tertawa ironi)huauahaa..melihat cucian setumpuk…eh..ternyata ada sprei juga nyelip dengan indah…berarti otot-otot tangan pagi ini harus siap siap menerima printah dari otak buat nyikatin tuh sprei….hihi. Sial, ga inget kalo ada cucian sprei..harusnya tuh weker gw nyalain pagian dikit, misalnya jam 7 gitu..hihi…sudahlah…jalanin saja..pagi-pagi kok sudah ngeluh…

Pagi-pagi kok sudah ngeluh…preeeeettt….sambil kentut, gw jadi inget, sebenarnya ngeluh itu teh negatif pisan pengaruhnya ke lingkungan..mending kentut daripada ngeluh..hekhekekeke….ya..Sebagai mantan tukang ngeluh, gw dah menemukan solusi,  bahwwa keluhan yang ditulis lebih seeru daripada ngeluh ke orang lain yang belun tentu dimengerti…Bahkan ngeluh ke orang yang sudah kita anggap sahabat sendiri kadang menjadi sebuah bumeraang bagi kita. Bisa saja semua keluhan yang kita sampaikan bagi mereka malah dianggap akal bulus kita agaar kita bisa mendapatkan dukungan dari dia….Jaadi…ya sudahlah..biarkan orang berpendapat…..yang penting kita ga kehilangan rasa kritis, rasa kritis sangat dibutuhkan agar kita bisa terus menjadi lebih baik..dan lebih baik kritik kita itu ditulis saja loh…karena sesuatu yang ditulis lebih kekal sifatnya….Dan kertas ga akan mungkin mengkhianati kita bukan?…hehe…

Mengeluh..kadang menjadi racun di hari-hari kita, dan seringkali membuat hari kita menjadi tidak berarti. Bukankah hari ini harus lebih baik dari hari kemaren, dan hari esok harus lebih berarti daripada hari ini?…Bukankah sia-sia apabila hari ini sama dengan hari kemaren,…dan celaka apabila hari ini lebih buruk daripada hari kemaren….(sumber dari hadis Rosul nih)..

Bukan sifat kejadian yang membuat hari ini lebih buruk dari hari kemaren…bukan kesedihan yang kkita rasakan hari ini yang membuat hari kemaaren lebih baik…Karena kesenangan dan kesedihan hanya bentuk dari pencapaian dan kegagalan harapan kita. Hari yang lebih baik mungkin adalah pencapaian pemikiran baru yang kita dapatkan di hari-hari baru kita. Apakah kita menemukan "bibit pelaajran" dari kejadian yang kita alami… Munkin itu maksud dari hadist Rasul tersebut…

Tak ada artinya apabila kita merasakan kesenangan yang berjuta kali lebih banyak dari hari kemaren, Namun kita tidak bisa mendapatkan pelajaran apa-apa. Huh…pelajaran, kata yang terdengar berat. Gw coba memperingan bahasa pelajaran ini. …hmm pelajran teh mungkin adalah berupa kejutan-kejutan kecil di memori kita yang membentuk sebuah pola berfikir baru dalam menghadapi masalah..prett..kayaknya susah juga yah dimengerti..hihi..pokoknya gitulah..

Walaupun kesedihan yang kita dapatkan ..apabila dari kesedihan itu kita bisa dapet tanda-taanda dan rambu-rambu baru dalam menghadapi masalah, mungkin itu adalah sebuah anugerah. Misalnya, andaikata saja Tuhan tidak memberikan sahabat yang berkhianat, mungkin gw akan teerus mempercayai orang lain untuk gw "maki" (sebuah analogi kasar dari obrolan monolog) yang berisi keluhan2. Mungkin gw ga punya kegiatan baru dan hobi baru dalam menulis. Mungkin rasa kritis gw terhadap sesuatu hanya menjadi  sampah sampah yang terdengar…menjadi bising….dan orang lain malah menutup telinga. Lebih baik semua keluhan itu gw tulis di kertas,atau dimanapun…sehingga walaupun tulisan gw ga terbaca..minimal kertasnya berubah bentuk menjadi kertas bekaaas yang bisa dijadikan bahan daur ulang…dijual,..dan menjadi bentuk baru yg sedikit lebih indah…Atau bisa juga tulisan2 keluhan gw yang ga terbaca di kertas menjadi bungkus-bungkus kacang…Pokoknya , menulis itu teh berguna lah…..itu sih pelajaran yang gw dapatkan di waktu lalu…saat dikhianati sahabat…:P……cieh…pret…

Nah…sekarang kita bahas…kejutan untuk memori (<–tadi artinya pelajaran kan?) apa lagi yang gw dapetin dari sprei yg ga gw sadarin kehadirannya di tumpukan cucian?…"cih..ternyata bentuk sprei tlah gw sepele in … dan  spre teh gede…dan berarti kalo dibiasain mungkin aja gw teh sebenarnya suka nyepelein masalah-masalah gede..hwekekekekekek…."hihi…dan pikiran pun mulai terganggu oleh perasaan perasaan aneh akibat sprei …

ya gitu deh..pokoknya…setiap hari itu punya arti….dan sebenarnya ga susah-susah amat untuk menggali arti di hari-hari kita….dan kadang untuk menggalinya…kita cukup dengan menulis..menguraikan kejadian dengan tulisan…dan kadang kita mendapatkan sesuatu yg baru dari kebiasaan kita menulis…kadang rasa yang ada di hati akan berbeda rasa apabila sudah tertulis…menjadi dan merasakan sesuatu yang baru..kadang-kadang menjadi keasyikan tersendiri lo….

sesuatu yaang baru…akan membuaat hari menjadi lebih berarti…disela kejenuhan kita akibaat hal yang berulang dan menjengkelkan…mungkin kita bisa mencari arti dari kejenuhan itu…dan itulah makna hari yang mungkin dimaksud Rasulullah……

jaKarTA siAga SAtu!!!

Friday, April 28th, 2006

Tuing_1

Tentara dan Polisi kembali berbaris, bergerak menuju lapangan apel di tengah kantor gubernur…
Semua menyiapkan diri menghadapi “Badai Curhat para Buruh” di hari senin mendatang…

Sebuah realita yang pragmatis, ketika penguasa berbicara, mereka bisa memakai senjata sebagai ‘’stempel” kebenaran atas tindakan-tindakan mereka. Menembak rakyat mungkin dianggap sebuah tindakan yang bisa “memagari” teritori kekuasaan mereka agar tidak bisa dimasuki ego-ego rakyat kecil.

Tahun-tahun ini memang sangat men-jengah-kan, ketika para penguasa terlihat bobroknya, ternyata mereka hanyalah para penjudi, yang mempertaruhkan negeri sendiri untuk mendapatkan keuntungan semu. Kemenangan bagi mereka hanyalah kepuasan sesaat, di saat pundi-pundi mengalir ketika menjual rumah sendiri. Ketika anak-istri kehilangan tempat tinggal dan mulai menangis,mereka panik..Namun dasar penjudi, dianggapnya bertaruh dengan harta sendiri adalah sebuah jalan yang terbaik untuk menolong anak istri.

Harta yang terkuras, rumah yang tergadai, dan anak istri yang menangis,hanyalah sebagian kecil dari warna-warna dan simbol-simbol analogi kebobrokan sifat para penguasa. Mungkin Senin nanti adalah “perang rumah tangga”, dimana para istri dan anak teriak minta makan, dan para suami malah marah dan melempar piring-piring agar semua isi rumah terdiam, sehingga istri seraya terisak membiarkan suami pergi begitu saja…pergi untuk berjudi lagi.

Oh..betapa susahnya mencari nafkah, ketika kita lebih suka bergantung , berjudi dan berhutang pada orang yang benar-benar mendapatkan uang dengan cara mencari nafkah…

Lebih baik menjadi orang jahat yang mencari nafkah..daripada menjadi orang baik yang berhutang…mungkin prinsip ini harus menjadi alternatif kepura-puraan baru…prinsip ini jauh lebih baik daripada kita harus mati dalam keadaan putus asa…KARENA BUKAN HANYA MEREKA PARA PENGUASA YANG BERHAK HIDUP…KITA PUN BERHAK UNTUK HIDUP

WasPadA MeRApi!!!

Friday, April 28th, 2006

Meletus_1

Pagi, 28April, Jumat Kliwon…

..Gunung yang meletus dan serba-serbinya menjadi santapan utama media-media ibukota. Dari bagaimana cara dan perilaku manusia menyikapi ancaman, sampai kepada tebak-tebakan apa yang akan terjadi setelah gunung merapi meletus.

…”Malam ini merupakan puncak kemungkinan Merapi akan meletus, Saya akan menantinya di rumah, ucapnya. Bagi Ismanto dan Masyarakat Terlebih lagisekarang ini dipercaya adalah siklus 1000 tahunan letusan Merapi….(Sumber Kompas, hari Jumat 28 April 2006)…

Sesaat lagi kita akan melihat kedahsyatan alam. Alam yang berbicara. Saat alam bicara, semua elemen yang “menempel” padanya hanyalah seolah “kotoran-kotoran” yang harus dibersihkan. Dibersihkan kadang berarti juga disadarkan, dibangunkan, atau bahkan ditiadakan. Manusia ditiadakan oleh alam saat alam berbicara.
Sudah menjadi kebiasaan, proses “peniadaan” terhadap sosok manusia akan menjadi drama-drama yang menghebohkan. Dari suara-suara isak tangis, sampai suara-suara doa yang meminta pengampunan atas kesalahan-kesalahan. Bahkan menjadi kesempatan-kesempatan baru bagi manusia-manusia untuk mencari “keuntungan”. Mulai dari keuntungan yang bersifat oportunistis, sampai keuntungan yang didapat dari sebuah proses pembelajaran terhadap suatu peristiwa.

Masih kita ingat, betapa tsunami Aceh telah meniadakan ratusan ribu bangsa Aceh. Dan ratusan ribu lainnya yang masih hidup ditantang untuk bangkit dan membalikkan keadaan yang telah dibalik oleh gulungan-gulungan hitam tsunami…
Contoh bencana Aceh adalah sebuah teladan besar dari alam. Bencana Aceh mengingatkan kita, kewaspadaan manusia hanyalah kenisbian.
Ketika nanti letusan datang, maka tak perlu kita menyesalkan kesalahan-kesalahan atas kewaspadaan kita yang masih kurang. Karena toh kita sudah berbuat maksimal untuk tidak mati. Dan itu akan menjadi awal baru untuk menapak hidup yang lebih baik.

SAat alam berbicara telah datang, hal itu bukan untuk kita waspadai, tapi alam berbicara agar kita bisa membersihkan diri… agar kita bisa lebih dekat lagi pada alam , dan agar kita bisa sadar, bahwa kita bukanlah siapa-siapa, dimata Pencipta Alam Semesta

Perseteruan Lantai Realita vs Lantai Layar Kaca

Tuesday, April 18th, 2006

Syimpthom_12  Semakin banyak saja kejadian-kejadian aneh yang hadir di balik kaca tivi…. untunglah realita yang melingkupi gw  belum seaneh kayak di tivi. Realita teraneh yang gw lihat sendiri  palingan cuman hujan angin yang membuat atap-atap asbes di rumah berbunyi seperti suara motor 2 tak…taktraktaktaktaktak….

Bunyi bising di jam empat pagi yang membuat aku terjaga…huehehe…sukurlah..jadi ga telat nonton bola–kalo pas ada bola di RCTI, atau tipi7—lumayan bisa nonton, walau paling pertandingan hanya bersisa 10 menitan lagi…

Apa hubungannya kejadian aneh di tipi dengan acaara bola??…nah lo…otak kritis (atau krisis?)* yang jahil mulai menyeruak dari otak belel gw…ini dia nih sebenernya yang pengen gw ulas di boy lit** ini..

Acara bola , khususnya liga inggris, itali dan spanyol..tidak mengenal waktu..dalam artian…acara itu sudah dengan arogansinya sendiri mempengaruhi para fansnya untuk tidak merasakan waktu…mu jam berapa saja…terserah…yang penting cuman satu..tim kesayangannya bisa menang… apabila kita (yang ngefans pada sebuah tim) melewatkan pertandingannya…seolah kitalah yang bersalah…hmm..Dan satu hal lagi, dan ini menurut gw adalah sebuah hal yang ‘agak’ serius, realita kita,…apakah disekeliling kita sedang hujan angin, apakah di chanel-chanel lain sedang ada berita kebakaran, teror, dan lain, lain,…kita sudah terkadung menganggap realita pertandingan sepakbola lebih penting dari realita-realita lain yang mengelilingi kita….

Menyukai satu hal, akan menyebabkan kita tertarik untuk lebih dekat dengannya, kalaupun perlu menjadi bagian dari hal tersebut. Dan bisa gw bilang, sebuah klub sepakbola yang sangat kita cintai, bisa menjadi sebuah kebenaran!. Gak percaya?, coba saja bayangkan, saat kita asyik  menonton acara bola yang kita sukai, tiba-tiba orang tua atau saudara (yg seharusnya sangat kita cintai juga) memindahkan chanel acara tivi pertandingan bola tersebut. Hanya ada satu kesimpulan, ada personal lain yang berbuat "salah" pada kita. Salah dalam artian, dia tidak benar, dia tidak ’sesuai’ dengan kita. Kita siapa? diri kita dan klub sepakbola kesayangan? ataukah diri kita dan orang tua yang melahirkan kita??…..haha…dalam hal ini, ada satu hal yang bisa terbersit di otak krisis ini….kebenaran adalah sebuah rasa kepemilikian…sebuah rasa yang bersifat personal, satuan…merasa menjadi satu…bukan sebuah rasa yang bersebrangan dengan diri kita…..

Gw mulai merasa ngeri, apabila akhirnya kita menjadi bersebrangan dengan realita yg sebenarnya. Realita sebenarnya yang gw maksud adalah realita dimana kita berada, dimana kita memijak. Dibawah kita pasti ada lantai, nah, itulah lantai realita kita…bukan lantai rumput lapangan sepakbola, yang ada dibalik layar tipi….Betapa menyeramkannya apabila kita telah merasa, lantai kita adalah lapangan sepakbola, dan orang-orang yang berada selantai dengan kita (orangtua dan saudara yg duduk di sebelah kita) adalah sebuah komponen yang bersebrangan dengan kita, bukan bagian kebenaran dari kita. Ketika kita merasa menjadi bagian lain dari sebuah kebenaran realita. Ketika kita menjadi "benar" yang lain. Hmm…pastinya sebuah kesalahan yang akan terjadi…di kemudian hari…dan kemungkinan besar kesalah itu dirasakan oleh orang lain…bukan kita…(sebenarnya pada keadaan itu adalah sebuah sebuah kondisi Mayday bagi diri kita )

Apa yang terjadi di televisi hanyalah sebuah gambaran "lantai-lantai"/realita lain yang kita lihat, dan tidak kita pijak. Apa jadinya apabila kita merasa memiliki realita-realita lain tersebut? Apa jadinya apabila kita merasa berhak untuk ikut memijakkan diri di lantai-lantai lain tersebut?, tentunya sebuah kegalauan yang akan kita rasakan….. Apa jadinya apabila kita sudah mengabaikan waktu-waktu yang mengikat kita direalita yang kita pijak? tentunya kekacauan ritme berfikir yang kita alami. Benar adanya kita hidup di dalam sebuah ritme tertentu, ada ritme yang muncul akibat orang lain, ada ritme yang muncul akibat diri kita sendiri, dan ada ritme yang muncul ketika kita berinteraksi dengan sebuah kondisi alam.

Tak terasa, alam bawah sadar kita dipengaruhi oleh ritme-ritme yang mengibuli dan memprovokasi mimpi kita. Ada ritme2 yang bisa mengkatalis mimpi kita untuk menyeruak dalam realita kita sesungguhnya,  menjadi realita-realita semu yang kontradiktif… Yang tidak memberikan solusi pada realita sebenarnya yang penuh masalah…..

Nah inget-inget masalah…gw jadi berfikir…kok ilustrasinya gak nyambung ya??…ilustrasinya kok gambar truk dikelilingi siluet hitem orang?….hehe…sebenarnya itu cuman buat gambaran kecil doang…bahwa realita pun ga harus sesuai dengan mimpi–> ilustrasi pun ga harus sesuai dengan isi narasi….bukankah perbedaan membuat kita berfikir?  ataupun apabila kita tak mau berfikir….ya minimal mengumpat…itu pun sudah cukup, cukup buat pembaca boylit** ini sadar, bahwa ada masalah lain yang lebih penting……bagi dirinya….

==========================================================

sekedar ngiseng nambah nambahin keterangan kata-kata yang berbintang:

* gw dan beberapa rekan di jakarta ini memang sempat berbicara tentang pembentukan koalisi urbanistis…urbanis kritis..kritis dalam artian fisik…bukan pemikiran….kritis dalam artian..butuh ditolong

** hehe..terus terang..gw mual pas ngarang istilah boylit…tapi apa boleh buat…biar ada ide..gw harus ada tekanan…bukankah mual adalah sebuah tekanan fisik dan psikis….hehe..ide memang bisa dipaksakan loh..)…

Badut-badut yang keluar dari polusi

Tuesday, April 11th, 2006

Jaka_nitip"Horeeee….!!!"

Ada teriakan yang terdengar di balik tembok kebun rambutan, sepertinya ada yang sedang berbicara,…tapi berbicara sendiri….terdengar sayup, namun cukup jelas di gendang telinga..

Suaranya seperti pernah kudengar. Hmm..yap, suara badut yang menghibur anak pak lurah di rumahnya kemaren sore. Kebetulan kemaren aku datang minta tanda tangan pak lurah, tanda tangan untuk surat kelakuan  baik biar bisa ikut tes cpns.

Siapa lagi badut di desa ini , ya pastinya dia si Imran…sosok yg selalu terbalut hitam bila terlihat di kampung…

………"Imran* masih hidup euy…gw masih hidup euuyy,….hidup di dunia yang tidak membutuhkan "kehadiran" sosok i-m-r-a-n,sosok gw…namun hanya membutuhkan kehadiran "karya imran–imran’s portofolios", dengarku pada ucapan2anya dalam kesendirian.., seperti suasana orang yang sedang berlatih drama…

Suara itu datang dari gubuk kecil di kebun yang tidak terurus. Terletak di tanah yang lumayan luas,seluas lapangan voli, namun rumah itu hanya dikelilingi pohon lamtorogung dan sayur bayam yang sudah tinggi-tinggi…

Hmmm..aku memberanikan diri tuk mendekat ke gubuk Imran, menginjak beberapa tumbuhan sayuran, yg sepertinya memang sengaja ditanam….aku berjalan menuju dinding samping, didekat jendela kusamnya,…

….kudengarkan lanjutan lonely talksnya imran , "…akhirnya gw mengetahui posisi diri ini sebenarnya…..who’s the hell i am??…i’m snothing for now… so that’s why i always wear black….biar semua ga bisa melihat sosok gw….dan memang bukan waktunya untuk melihat sosok gw yang sesungguhnya saat ini…" Kudengar sebuah keluh di balik jendela kusam..hehe..aku jadi penasaran untuk nguping kata-kata selanjutnya…

…"gw baru bisa menyalurkan keinginannya di sebuah karya di hadapan audience panggung kecil,yang direncanakan jauh hari…bukan di sebuah realita yang komplek, luas dan berhirarki laksana di keraton.." Dia terdengar sedang memukul-mukulkan sesuatu ke dinding…mungkin saja dia lagi ngusir semut yang merayap di dinding, karena aku tak sengaja tergigit semut karena bersandar di jalur semut yang ada didinding. Dan jalur semut itupun masuk ke bagian dalam rumah…hehe..dasar gw sok tau…

Sambil mengibaskan tangan, mengusir semut yang nempel di baju, aku pun mencoba menguping lagi…..

….menarik juga isi curahan hatinya.. …..sabari terus mendengarkan monolognya…….

"Huh realita…sampai kapan kau memaksaku untuk terus menghiruf udara, mengeluarkannya…dan terus berbuat,sampai kadang2 diri ini merasa bodoh melakukan hal yang terus menerus"…..Ketus imran. "Hai kenyataan,adanya  aku tak kan ku sesali, namun perbuatan tak terfikir kadang terasa seperti tulisan-tulisan tak terbaca di bungkus kacang", "realita semprul".

…hahaha…pernyataan Imran kali ini benar-benar membuat hati terasa geli….

..Hmm Imran mengingatkanku….bagiku, realita yang sebenarnya bagaikan kumpulan naskah skenario yang harus dibaca dan diperankan di panggung2 kecil yang bertebaran secara acak di sebuah pasar rakyat. Tidak di dalam sebuah bangunan khusus pertunjukan teater, tapi dalam ruang2 yang dihubungkan jalan2 dan keramaian ,. Semakin jauh kita melihat ruang ruang penyimpanan itu (bayangkan kita melihat panggung2 itu diatas bianglala)…semakin berbentuklah ia,ia seperti mapping desain-desain post modern namun terkomposisikan rapi, dan mengundang keramaian …

… skenario-skenario yang ditampilkan di panggung2 yang tersebar acak. Namun uniknya, skenario2 itu memiliki satu tema dan ada yang membuat tema itu……….semuanya sesuai dengan pasar malam yg berlansung meriah, peran senang diperankan badut, peran sedih diperankan para wanita yang jadi target ahli pisau, dan peran misterius diperankan oleh para peramal2 gipsi…

.  Mungkin bagi Imran Tuhan adalah Sang Pembuat Temal itu…seolah baginya realita itu  tersusun dari kumpulan kalimat sakti orang-orang penyelenggara pasar malam yang digabung dalam sebuah kitab Sang Pembuat Tema…bisa jadi orang orang penyelenggara pasar malam versi imran adalah wakil-wakil atau ceceran2 kitab Tuhan yang sebenarnya di muka bumi,hanya remehan dari kitab-kitab perkataanNya..(….khalifah di muka bumi…Istilah Al Qurannya)….hehe…ledakan kecil pemikiran dari otak yg sok tahu ini berusaha menginterupsi sebuah suasana monolog yg mengharukan di balik jendela…. Lalu kudengar lagi suara yang agak menyerak…mungkin Imran butuh minum air putih, mungkin tenggorokannya kering karena ngomong sendiri ….hehe….

…" Dan realita pun sebenarnya adalah persetujuan, dan kesepahaman antara orang orang penyelenggara pasar malam yang bisa mengubah dunia malam….dan Tuhan yang duduk di singgasana langit pun tinggal menunggu syukur mereka atas pemahaman mereka yang merubah realita, dan hal itu selalu berulang dengan lucu….", Khayal konyol Imran yg terucap di bibirnya, sangat nyambung dengan apa yang kubayangkan…

Aku jadi berusaha berkhayal sekaligus mengingat sesuatu….

terlalu berat untuk berfikir tentang realita, namun realita mudah sekali untuk disimbolkan…orang sangat mudah untuk terjebak dalam simbolisme…..SEtiap pemikiran seolah-olah memiliki akhir yang berupa simbol, atau bentuk. Bahkan kadang2 Tuhan pun menjadi sebuah simbol dan bentuk, sebuah tanda akhir pemikiran manusia…pemikiran yang mentok manusia untuk memikirkan sang hakikat tertinggi.

….mungkin simbol simbol realita versi imran hanya berbentuk balon…balon adalah sebuah simbol keriaan, simbol anti kesedihan,…….Imran  mungkin masih senang menggenggam tali balon balon berisi mimpi2 yang memanipulasi jadi realita…..yang membuat Imran badut pemimpi yang bersemangat…yah..badut yang ingin menjadi penghibur dan ingin terlihat dengan "kostum kostum" yang eye cathing… yang ingin didengar kata-katanya….seraya ia memegang balon2…

"Gwtelah berbuat bodoh, mungkin ku terlalu banyak berkata di pesta ulang tahun kemaren. Gw terlalu banyak cerita tentang kemana balon terbang, padahal audience panggung kecil pesta ulang tahun tak peduli mu kemana balon itu terbang. Audience hanya butuh hiburan agar tidak beranjak. Mana sempat ia melihat arah balon yang terbang ke angkasa bebas"……ternyata para audience pesta ulang tahun tak ingin melihat badut-badut tanpa topeng yang berakata-kata,…mereka hanya tertarik pada badut-badut yang pandai menari..pandai memainkan permainan…dan pandai menjadi badut yang benar-benar badut…

hmm…

aku mendengarkan sebuah tawa kecil…

"Hihihihi….andaikan Imran bisa menjadi badut-badut yang profesional… suatu saat mungkin saja dia akan jadi "para penyelenggara keriaan, para penyelenggara pasar malam", para pengubah realita….., orang-orang yang dipandang fokus untuk terus melucu di hadapan audience……saat  itu pastinya semua audience telah tercandu oleh memori-memori karya-karya lucu tindakan si badut, dan semua secara perlahan berubah menjadi sebuah skenario di dalam kepala, skenario-skenario yang berkumpul di setiap audience panggung kecil. Mudah mudahan kumpulan skenario saat ku jadi badut, bisa menjadi bagian dari kumpulan skenario acak yang bernama realita,…..sehingga setiap laku badut pun telah menjadi lukisan-lukisan memori hidup yang tak lekang oleh waktu,sehingga tak perlu tau sapa yang dibalik topeng kostum, tapi audience hapal badut ini lucunya edan, yang ini slapsticknya edan, semua yang dibalik kostum adalah sebuah kenisbian dan kehampaan yang hidup, hanya sebuah ruh…dan kostum ini adalah nafsu yang merupakan bumbu yang terasa…………mungkin begitulah arti sebuah pekerjaan  yang penuh kelucuan ini..", Tawa  Imran, dan ku dengar langkah langkah yang semakin cepat..sepertinya dia sedang melangkah dan mengambil barang-barang…..

"ya…aku ini badut, badut yang masih senang memegang tali balon", ujar imran

"sangat pantas ku tinggalkan gerombolan yang selalu mentertawakan diriku saat tak berkostum.." Suaranya mengeras, dan terdengar tegas

…"Akumerasa saat itu tidak pantas ditertawakan karna aku tidak sedang menjadi badut..aku  hanyalah sosok berbaju hitam……aku tak tahan pada gerombolan, aku haru pergi dari gerombolan orang2 yang hanya bisa terhibur oleh ingatan-ingatan….dan bukan realita yang ada di depan mata"…."mereka tidak bisa mentertawakan ruhku,apa yang mereka bisa lihat dari ruhku?", Dengarku sambil berusaha melihat ke belakang, sapa tau tingkahku yang menguping di jendela rumah orang bisa membuat orang menyangkaku yang tidak-tidak, sepertinya kata-kata imran terputus,..kerongkongannya kering mungkin

" Kau tahu cermin ..kini Imran yang seorang badut pun menyiapkan semua peralatan untuk berkarya….kostum yang eyecathing,…makeup tebal..dan topi-topi lucu….dan kostum hitam2 yang melapisi kulitku pun tertutupi kostum berwarna terang…."Nah…kini aku pantas ditertawakan kembali, wahai cermin….karena aku dibayar untuk itu"…ketus Imran . Rupanya dia bicara di hadapan cermin..

"Aku hanyalah karya ku,saat ini, aku adalah badut.. Tanpa berkarya aku bukanlah apa-apa,tanpa menjadi badut aku hanyalah kenisbian,… mereka masih membutuhkan karya ku untuk makanan nafsu mereka…ruhku hanyalah kegelapan dibalik kostum, yang tak dirasa penonton……biarkan karyaku menjadi warna-warna yang merasuki pikiran mereka, dan ingatan mereka……." lamun Imran…PREEEEEEETTTT!, weker terompet imran berbunyi …sepertinya dia mau pergi…sepertinya dia harus bertugas…karena kulihat dia berlarikeluar seraya mengenakan kostum badut…

======imran pergi, dan kini imran sedang membadut,======

nb:

Keesokan hari aku bisa berkenalan dengannya, ngobrol banyak…dan satu hal yang paling menusuk kalbuku,…ketika aku menemukan kitab yang sedikit kumal dan terselip ballpoint ditengah2nya….aku penasaran dan membuka kitab sucinya…dipenuhi tulisan-kecil…namun tak kumengerti… Namun ada satu kalimat dari tulisan Imran yg kubaca dan menusuk kalbu ..Ada  sedikit tulisan imran di sudut bagian belakang kitab suci yang selalu ia baca di pagi hari…bunyinya begini…

" Hey Tuhan…engkau selalu memberikan tawa di tiap - tiap penggalan waktu…dan aku selalu tertawa ketika Engkau menunjukkan padaku bibit-bibit tawa di pagi hari, saat ku baru bangun pagi…dan tawa ini melingkupiku,dan membuatku hidup

"…Hey Tuhan….apakah Kau selalu tertawa dalam mencipta?, karena terus terang…alam mu penuh kelucuan yang menggelitik..sehingga aku selalu teringat padaMu"…