YA ALLAH..ku ingin menemukanMu seperti jalannya Ibrahim
Friday, September 30th, 2005
"Sesungguhnya shalatku, hidup dan matiku, hanyalah karena Allah semata…"
shalat isya sebelum pulang kantor tadi hanya menyisakan kata2 iftitah itu dikepala..
.lamaaa sekali..seiring waktu…seiring kilatan cahaya yang terbias dibalik taksi yang membawa diri ke pertemuan kecil di tengah malam …..di tengah kota yang seolah melupakan makna gelapnya malam….
………..kesibukan yang menyita ruang hati………akhirnya terlewati
………..saat diri berhasil mencapai peraduanku………
………..disebuah bangku plastik kecil……dan sebuah rangkaian komputer
..kata kata iftitah itu masih saja mengiang di dalam otak,
..terasa memamerkan dirinya 7cm di belakang dahi….
..kedip mataku yang melihat monitor pun tak terasa..
..kantuk hanyalah tertawaan di kala otak ingin meledak
..diri ini terus terjaga
..bukan karena akibat kopi sweet blacknya Mc Cafe yang terminum jam 2 malam tadi….
..tapi karena kata yang mengiang itu belum mau tersimpan di dalam memori kepala…
..dia masih melayang di dalam otak….
Ahh..lanjutkan saja diri ini menatap ke debu yang menempel di langit-langit…
pelajaran apa yang bisa ditulis hari ini,
apakah debu malam ini menjadi pemeran utama alam fikir ini?…
hanya karena mata terbawa untuk melihat debu
lalu aku harus memanjakan mata kosong ini?
tatkala iftitah memenuhi isi otak, dan debu merangkak di penampakan…
akankah aku kaitkan kedua katalis fikir ini…
akankah 2 hal ini menjadi sebuah makna baru??
1 jam berlalu…kuputuskan tuk berhenti "mengambang" di langit khayal
tertunduk, dan memejamkan mata
dan aliran kegalauan ini membuat jarijari bergetar
dengan sepuluh jari…sambil terpejam…
ku menulis , menekan tuts kibor komputer ini….
Ya Allah
Bertafakur diri yang kotor ini
melalui sedikit cobaan saja yang menghadang, membuat badan tak bisa bergerak
otak berputar terlalu cepat, sehingga dunia pun terasa ikut berputar,
badanku pastilah gontai dengan rasa ini
tersungkur adalah pilihan yang tepat untuk saat ini
ketika kita tiba-tiba lumpuh …
..lumpuh karena menerima sebuah kebingungan
kebingungan dalam menghadapi realita
realita ini adalah sebuah ketetapan, bahwa kita berada di dalam sebuah keterkaitan
keterkaitan dengan apa yang kita lihat, keterkaitan dengan apa yang kita rasa, keterkaitan dengan apa yang kita cium, keterkaitan dengan apa yang sedang kita dengar..
indera ini adalah kaki kaki yang menapak realita
dia akan menangkap sari-sari realita, atau bahkan tai tai dari realita
bukanlah Engkau yang memilah realita
realita bukanlah hal busuk saja
dan bukanlah hal yang indah semata
realita adalah sebuah pasangan
berlangsung dengan pilihan
berlangsung dengan indah..bergilir..saling menanti…seolah keindahan dan kebusukan adalah sahabat sejati..
mereka (keindahan dan kebusukan itu) seolah tau timing yang tepat saat harus berdansa di hadapan kita…..
aku ini sang pemilih
aku ini sang pengetuk, kuketuk mimpiku dengan langkahku
langkah menuju pintu hakikatMu
dan Engkau sang pembuka pintu
..aku terpekur…dan lagi kuingat debu di depan mata dan debu di fikiranku….
..ku coba mengaitkannya…
Oh Tuhan Semesta Alam…
Aku ini hanyalah debu…
bahkan lebih kecil dari itu…
Aku selalu berjalan tertiup angin
menyusuri tanjakan dan turunan bumi
menyusuri gelapnya dan terangnya ruang cipta Mu
Menikmati dan kadang Memaki Cahaya Mu
Aku masih tak tahu
Dimana Engkau yang selalu tersenyum
Namun kurasakan
setiap detak, setiap tarikan nafas, engkau selalu menuntun
Tuhan,
izinkan aku sedikit mengucap
bahwa aku kini merasa gelap
badanku tak berbayang
karena aku adalah ruang hampa
Hari hari yang harus kutempuh
belumlah tertanda oleh sidik hatiku
bertualang mimpi diantara pembuluh syaraf
sehingga mata lupa melihat dunia…
Tuhan,
Aku membutuhkanMu
Aku terkapar
SenyumMu adalah tanduku…


