Revolusi Ide - sebuah pra dogma

March 22nd, 2009 by zakajekjon

Hidup itu adalah rasa syukur.. yang terikat waktu…

Begitulah mungkin intro yang tepat untuk cerita dibawah ini. Cerita tentang berharganya diri kita, lingkungan kita, dan waktu kita…

Apakah ada yang memperhatikan, bila kita mau, waktu membuat kita berpikir lebih luas, lebih kompleks dan lebih sistematis? Padahal, pemikiran itu hanya berasal dari satu ide.. seperti bola salju..meluncur dari puncak bukit kontemplasi kita.. lalu  memantul dan membentur dinding-dinding realita  di bawahnya. Bola itu semakin membesar dengan gulungan-gulungan realita, yang siap menerjang realita lain yang menghalang….dan akhirnya sang penghalang pun mengikuti bulatan dan putaran bola salju besar itu…

Bola salju besar itu, bila kita lihat hanyalah ide yang terbungkus oleh logika realita. Logika-logika itu terikat dalam sebuah sistem. Sistem bola. Yang siap punya kemampuan berputar, bahkan merusak. Perputarannya adalah sebuah proses revolusi, yang bisa menggulung apa saja, siapa saja, kapan saja, selama masih berada di lereng miring yang dilewatinya. Revolusi akan berhenti, ketika ada keseimbangan, lahan datar, yaitu ketika nilai kebutuhan (baik individu maupun kelompok) telah sesuai dengan nilai produksi (individu atau pun kelompok).

Judul note ini memang revolusi ide. revolusi, karena revolusi adalah sebuah pembentukan sistem, pergerakan/putaran yang membesarkan arti realita. Ide, karena kini point ide lah yang bisa dijadikan bibit “bola salju” itu. Dahulu kita pernah mengalami revolusi perdagangan, revolusi industri, revolusi energi, revolusi informasi… hingga semua itu berlabuh pada bidang datar yang bernama dunia tanpa jarak. Hanya waktu yang memberikan perbedaan di dunia ini. Keseimbangan muncul ketika kita berbicara masalah akses informasi, akses barang, akses mesin industri. Siapa yang masih benar-benar masih tak bisa menjangkaunya diluar kendala modal?

Ketika semua sistem kehidupan sudah saling terhubung, seolah tanpa jarak, maka yang kita tunggu adalah, apakah ada ketidak seimbangan lain yang akan terjadi?.. maka bila itu terjadi, tak usah menunggu.. bola salju pasti akan meluncur….

Sistem kehidupan ini tersusun tidak sendirinya.. Butuh waktu ratusan, bahkan ribuan tahun hingga akhirnya kita sampai ke masa semua serba “dekat” ini.

Terbentuknya  sistem ini tak lepas dari adanya pergerakan revolusi, atau jika dianalogikan seperti adanya bola yang meluncur deras, yang membenturkan realita, hingga akhirnya membentuk sistem-sistem kehidupan yang ada. Semua membutuhkan logika, logika berdasarkan system yang telah ada…

Mengingat-ingat lagi…

Revolusi Perdagangan membuat negara harus menstrukturisasi sistem di negerinya agar mampu melakukan perdagangan antar benua, hingga akhirnya harus mengkolonisasi negeri-negeri yang tak “mampu” mengimbangi “tren” kolonisasi yang terjadi.

Revolusi Industri membuat negara-negara harus menstrukturisasi sistem Industrinya, hingga mampu mengimbangi pertumbuhan produksi dan cepatnya distribusi barang melalui  jalur perdagangan. Revolusi ini menciptakan negara-negara produsen, dan Negara-negara yang ditakdirkan jadi konsumen sejati.

Revolusi Energi muncul akibat munculnya ketidakseimbangan penggunaan bahan bakar. Baik akibat industri, perang, maupun akibat kebutuhan penggunaan energi untuk penunjang kehidupan.revolusi energi terkait langsung dengan revolusi sebelumnya dan revolusi setelahnya (seperti yang akan diutarakan di bawah)…

Revolusi informasi muncul ketika ketidakseimbangan kebutuhan hidup dengan sarana tertentu, tidak diimbangi dengan informasi cara menggunakannya.. maka timbullah “mata air-mata air” yang memberikan solusi atas dahaga informasi itu. Dalam perkembangannya, siapapun yang bisa mengelola sumber informasi itu “hampir” bisa melakukan segalanya. Dari permainan politik, permainan bisnis, bahkan bisa membentuk sebuah kolonisasi baru berbentuk serbuan-serbuan gaya hidup. Gaya hidup baru ini membentuk sebuah industri baru, dan “mungkin” saja jiwa-jiwa baru. Yang lebih individualistis, namun lebih mudah diatur, seperti buih.

..Mencoba berhenti sejenak….

Semua elemen kehidupan kini lebih mudah diraih, dan lebih mudah digali pesan-pesan apa saja, skenario apa saja yang akan dimainkan oleh para pemegang saham skema revolusi.

Dalam kelengkapan sarana, pasti ada yang tidak lengkap.. Ini bila melihat dari teori keseimbangan. Apa yang menjadi kekurangan kita di masa semua serba lengkap dan serba dekat ini?…

Hari ini waktu berputar terasa lebih cepat, karena setiap detik seolah mengirim maknanya tersendiri. Yang harus kita tangkap adalah, semakin orang yang tak kuasa menangkap makna-makna dari setiap detik waktu yang berjalan. Banyak orang yang overload, banyak orang yang nge-hang, bahasa kasarnya, banyak orang yang susah karena perbuatannya sendiri.

Yang dibutuhkan saat ini adalah.. ide..

Ide membuat makna yang terkandung di alam bisa jadi lebih terolah. Betapa dahsyat jadinya bila setiap detik waktu kita memiliki rencana yang terkait kuat dengan realita? Sehingga setiap langkah kita memiliki jejak yang kuat dalam kehidupan sosial kita? Kehidupan pekerjaan kita?..

Akan datang masanya, saat ide menguasai dunia. Dunia hanya membutuhkan ide untuk bisa berjalan, karena semua sudah ada. Karena semua elemen sudah sempurna.

Di masa revolusi ide, Setiap orang butuh ide yang matang, walaupun ia harus membeli. Setiap orang akan berlomba-lomba mendapatkan ide/skema dasar untuk menjalankan hidupnya. Para penggagas sistem adalah orang-orang yang kaya.. dan mampu memanipulasi elemen dan sarana yang ada. Sistem ada, karena ada bank ide. Dan ide itu layak untuk dihargai.

Bila melihat Malaysia, yang sibuk mematenkan karya-karya lokalitas, maka kita telah melihat contoh Negara yang mulai menyusun strategi, positioning dalam persaingan revolusi ide. Jangan salah, nantinya setiap pattern sesuatu hal yang berhubungan dengan ide lokalitas yang telah dipatenkan Malaysia, kita harus mendapat izin dari mereka. Menjajah mulai sekarang, itulah mungkin yang mereka kerjakan sekarang. Betapa mengerikan dan menggelikan bila itu terjadi..hehe

Saya semakin yakin bahwa revolusi ide akan datang lebih cepat, ketika CD bajakan Inul membuat Inul jadi sangat popular. Kenapa? Karena yang tampil disini adalah industri ide. Ide geol, yang sebenarnya tidak penting-penting amat, telah berhasil didistribusikan secara tidak langsung oleh sistem pasar yang spontan, ke masyarakat luas. Inul pun jadi kaya, itu sudah pasti….

Saya semakin miris dengan nasib artis/khususnya musisi, yang beberapa kurang abai atas ide bermusik mereka. Sibuk membela diri dengan semboyan jangan beli bajakan. Padahal, mekanisme pasar tidak peduli. Mekanisme pasar hanya melihat, sesuatu bisa lebih murah, itulah yang mereka dapatkan. Dalam system banyaknya peredaran CD bajakan sekarang, apakah artis masih bisa kaya? Saya jawab dengan pasti, Bisa!
Kemampuan artis bermusik dan kemampuan daya sebar CD/kaset adalah dua hal yang jauh berbeda. Apakah musisi sadar bahwa mereka telah menggadaikan nilai idenya dalam bentuk kaset? Apakah mereka tidak bercermin, bahwa penggemar mereka lebih menunggu kejutan ide perform mereka di panggung?…
Hmm.. perlu diingat.. dalam membaca wacana revolusi, unsur hati dan moral adalah sebuah “aksesoris” yang sifatnya sangat subjektif.

Saya tertawa terpingkal-pingkal, bila artis menggadaikan performa mereka dalam sebuah penampilan lypsinc. Padahal pertunjukan musik adalah sebuah nilai mahal, sebuah hal yang sepatutnya dibayar mahal untuk kepentingan mereka. Setiap detik mereka mengeluarkan ide dan kemampuan. CD asli itu akan berharga sebagai merchandise saat penggemar puas dengan pengalaman mereka. Dan saya pun akan dan harus mencari CD asli, saat puas menonton performa mereka.Kini jaman berbalik, namun itulah hal yang paling logis yang bisa terjadi. Untuk ide ini, saya berharap label berfikir lebih besar, pikirkanlah pembentukan “image” sang musisi, hingga dengan performa langsunglah sebuah image bisa menjadi tolok ukur. Image kini adalah sebuah hal yang sudah layak di”manage” dan di kelola dalam unsur bisnis. Hingga Tak hanya melulu berkutat di jualan “kaset”.

Bisnis pertunjukan semakin berkembang, dan hal itu membuka ruang untuk para music engineer, lighting engineer,dan musisi profesional musician mengembangkan kemampuan “menggedor” hati penggemarnya. Musik adalah interaksi.. dan interaksi adalah obat hati yang autis.. Untuk hal ini saya bisa berkata: “Lypsinc adalah korupsi”

Ada pertanyaan muncul saat saya memikirkan revolusi ide ini, bila revolusi ide baru terjadi kali ini, apakah (lalu) Michael Angelo lahir di masa yang salah? Saya rasa tidak, karena di setiap kondisi tertentu pasti terjadi anomali. Di setiap masa akan muncul orang-orang yang seolah hidup tidak dimasanya, namun mungkin akan menjadi “trigger”…Karena Tuhan / sistem utama alam telah mengatur, tidak akan ada yang benar-benar seimbang, kecuali inti (jika itu di atom). Bahkan inti pun memiliki pasangannya sendiri… Seperti air, dalam suhu tertentu, memiliki kondisi tertentu….

Setiap masa menghasilkan cerita dan kejadian. Cerita itu bisa saja terbungkus kenangan indah atau pahit, tergantung posisi dan cara kita menyikapinya. Tapi di balik kisah-kisah itu, kejadian adalah rentetan pelajaran berharga, bahwa keseimbangan dan ketidakseimbangan adalah permainan Tuhan diputaran waktu yang dibuatnya..jadi.. sante aja.. selalu berfikir besar saat bermimpi dan,..selalu realistis saat melangkah…get your best position in any condition…

indigo superlative

September 9th, 2008 by zakajekjon
none

none

Ustad tahu apa yang kau lakukan kemarin..
Ustad tahu apa yang kau pikirkan
Dan Ustad tahu engkau tak bisa berbuat karena bla bla bla..
..
Begitulah penggalan kalimat yang dilontarkan seorang “paranormal” yang membuka praktek refleksi kepada pasien-pasiennya… Di sebuah sudut di selasar-selasar ibukota.
..
Semuanya begitu meyakinkan. Setidaknya terlihat dari anggukan-anggukan sok pasti para pasiennya. Mereka menganggap ustad itu adalah representasi dari pikiran-pikiran mereka yang belum terjangkau oleh wawasan dan waktu mereka.
..
Semuanya terlihat pasti. Dari penyebutan akar masalah.. kenapa seseorang mengalami masalah.. apa yang harus diperbuat. Dan siapa yang harus dipersalahkan.
..
Kehadiranku di pojok ruang praktek sang ustad hanyalah sedikit hiburan untuk urbanis kritis yang membaca tulisan ini..
..
Bahwa kejadian itu adalah plot /kumpulan sikap dan penyikapan yang saling terkait, itu sudah kusadari sejak dulu. Yang membuat praktek “baca membaca” batin orang semakin menarik adalah tingkat kepercayaan diri sang “paranormal” yang begitu tinggi. Tinggi sekali malah. Sampai mereka merasa mampu menggerakkan orang untuk menganggukkan kepala mereka. Setidaknya untuk 1 dari 5 pernyataan yang mereka ungkapkan….
..
Teringat akan kemamputan anak-anak indigo.. yang memiliki kontrol indra yang sangat kuat dan kadang mampu mempengaruhi suasana sekitar. Mungkin itu yang “pak ustad” inginkan. Tapi ada satu hal yang mungkin tak terasa. Bahwa keinginan sangat berbeda dengan realita… Anak indigo bergerak dari realita.. dan pak ustad bergerak dari keinginannya untuk membuat orang terangguk-angguk,…seolah itu adalah realitanya..
..
Anak indigo mampu mengubah dunia.. dan paranormal tidak! Indonesia tidak berubah menjadi merdeka pada awal tahun 1900an padahal memiliki ribuan dukun.. tapi Indonesia bisa berubah oleh beberapa tokoh indigo (dan tentunya dibantu oleh orang-orang normal berkeinginan keras) yang kini mungkin namanya telah menjadi pahlawan…

August 21st, 2008 by zakajekjon

Cintamaulia

Tuhan yang baik..
ada saatnya engkau memberikan hiburan dengan tangisan, yang hangat ketika dirasakan…

kau memberikanku kepercayaan…
untuk menjadi ayah seorang bidadari penghuni surga…

mata-mata malang memandang..
seakan aku menderita…
melihat tangisku dipusara bidadariku..

padahal betapa bahagianya aku…
betapa inginnya aku..
betapa besar harapanku..

untuk menuju surga..
untuk menjadi penghuninya…
untuk memilih jalan yang cepat menujunya…

seperti yang dilakukan sang putri sulungku…
di usianya yang baru memasuki tujuh bulan..

tangis menderai..
saat ku sapa istriku yang lemah di ranjangnya…
ku katakan bahwa anakku, dan anaknya telah disurga..

ku katakan bahwa kami adalah orang tua pilihan..
yang diberi air mata kebahagiaan…

oh Tuhan, aku sangat mencintaimu…
aku sangat ikhlas dengan jalan yang kau berikan…
ampuni aku.. lindungi aku…

(maulia tiffa arridha..wafat 05 08 2008…putri sulungku)

Sosok-sosok di kaki langit

June 15th, 2008 by zakajekjon

Langit

Angin dingin semakin kencang di awal malam..

membawa sedikit butiran-butiran salju yang menerpa muka-muka membiru…
Rasa dingin sudah terasa sampai ubun-ubun
dan teriak pun tak bisa melepaskan tekanan-tekanan urat saraf yang membeku diterpa salju.
Tinggal 15 langkah lagi menuju puncak…
Namun rasanya seperti perjalanan panjang yang melelahkan…..
Rasa ingin pulang, berada di dataran hijau, kian memuncak…. .
Namun ambisi untuk melihat dunia dari pijakan tertinggi pun tak kalah membuat darah mendidih….
..Tuhan, andaikan ini mimpi, segerakanlah.. rasa dingin ini membuatku takut…

Prosa tadi saya buat di lantai tertinggi kantor saya..
sesaat membayangkan rasanya di puncak gunung yang tertutup salju..namun..kini saya haya berdiri di dek beton dengan rangkaian peralatan generator listrik dan pengolah air yang menderu..
Berisik sekali diatas sini..

Tak hanya suara mesin, alam pun kali ini bersuara cukup kencang..
angin yang menerpa seolah mengirimkan pesan singkat…

"Kau kini tahu..tempat teratas ini bukanlah tujuan.."

"Tak ada kepuasan disini…yang ada hanyalah deru mesin dan teriakan alam"
"Gedung tinggi ini hanya akan mengantarkanmu ke dalam ruang hatimu yang dingin.."

"…Jangan kau cari kepuasan disini…kepuasan ada di bawah sana..yang takjub melihat tingginya gedung yang kau pijak kini.."…

"Kau lihat disini…tak ada yang indah saat kau diatas.."

"Semua menderu…membuat hatimu menjadi dingin"..

Bah!..sepertinya saya mulai berhalusinasi.. angin jakarta cukup mengagetkan saya saya.. tiupannya seperti bisikan-bisikan yang menghunjam hati terdalam..

Orang-orang di kaki langit Jakarta… Bukanlah sosok-sosok yang puas… namun di otaknya penuh tanda tanya dan tanda seru.. otaknya benar-benar berkuah….

Makna Doa di Jakarta

May 6th, 2008 by zakajekjon

Doa_di_jakarta

Ada saatnya orang-orang Jakarta tertidur, melepas semua beban yang
menekan-nekan otaknya. Kadang mimpi menghampiri mereka, berisi sedikit
gambaran masa lalu, esok, atau bahkan masa yang tak mereka ketahui.
Kadang mimpi hanyalah sedikit gumpalan masalah yang terkolase dengan
rapi menjadi fragmen-fragmen cerita, yang kadang sudah dilupakan saat
terbangun.

Betapa hidup adalah rasa syukur, yang mengalir dalam darah-darah panas orang-orang penuh keinginan.

Terlihat
beberapa sosok bangkit di tidurnya, tak memikirkan apa yang terjadi
dalam mimpinya, namun bergegas membasuh wajah dan sedikit bagian tubuh
lainnya. Niat bersuci pun dicanangkan dalam hatinya. Berharap dalam
kesepian malam teriakan hati terdengar lebih menggema di telinga Yang
Kuasa.

Ini hanyalah salah satu doa mereka,penghuni Jakarta di malam hari, …

I pray to you My Lord
If i could reach Your sky
i never gonna  leave You

When i walk in the crowd of the city
my eyes want to see more higher…
so i can see all of them talking loudly

I feel worry now My Lord
Why people cursed themselves..
With arrogances and dominancy

Tell them.. Shout at them loudly
Not the money rules their journey
But always You sign on  our step…

Apakah Doa Itu Harapan

…kita bisa memilih..

Doa membuat kita mampu bangkit dikala seluruh badan nyaman dalam lelap.
Berharap
rel kehidupan tetap kukuh dan tak membuat kita anjlok atau terlempar ke
lembah yang membuat kita kotor. Pertanyaan-pertanyaan tentang kejadian
yang ada di dalam perjalanan kita adalah sebuah anugerah dan beban
tugas hidup yang Tuhan berikan.

Kadang beban terasa terlalu
berat, namun menurut Yang Kuasa tak pernah ada beban berat yang
melebihi kemampuan kemampuan orang-orang Jakarta. Bahkan kematian pun
adalah sebuah gerbang bagi ruh untuk mengenal makna baru.

Doa
kadang berarti tanya jawab dengan Tuhan. Tanya jawab mengenai makna,
warna, dan rasa yang meliputi hari-hari. Dengan kompleksitas peristiwa
yang ada di Jakarta, bisa memaknainya adalah sebuah nikmat khusus yang
mungkin pantas diberikan pada orang-orang Jakarta.

Memaknai
hidup di jakarta dengan cara yang lain, bisa dilakukan dengan cara yang
belum kita kenal.Puisi-puisi berbahasa asing dan makna-makna asing
kadang butuh untuk kita santap, sebagai sajian pemandangan kereta
kehidupan,dan referensi hidup, yang memberikan rasa dan tampilan yang
selalu berubah dan berbeda.

Doa di Jakarta, adalah sebuah
antitesis masalah Jakarta. Doa Jakarta tak hanya berisi harapan. Tapi
juga mantra-mantra pembunuh kutukan arogansi dan dominasi makhluk lain
yang hanya ingin puas bila melihat dirinya memuntahkan liur dari atas
kepala orang lain…

Hidup di jakarta tak membutuhkan toleransi.
Toleransi hanyalah sandiwara kecil dalam sebuah prolog pembukaan
pertunjukan drama yang anti happy ending.

It’s All About Mindset

March 31st, 2008 by zakajekjon

Mindset

Pak Bayu pergi ke kantornya di Sudirman jam 5 pagi tadi..
Mobilnya
ditinggalkan di rumah, dan lebih memilih motor untuk menembus kemacetan
di perjalanan antara Parung-Sudirman. Pilihan yang berat dikala hujan,
namun urgent di saat Pak Bayu harus memenuhi janji dengan klien di pagi hari.

Macet
telah diceritakan pada laporan dibawah, yang menceritakan macet yang
seperti gurita-gurita lapar dan serakah. Pak Bayu mungkin berhasil dan
telah biasa melewatinya…

Saat kita sadar konsekwensi hidup di Kota,maka memilih, memutuskan dan teguh pendirian adalah kemampuan yang harganya mahal..

Tiap detik, tiap menit, dan tiap jam waktu berlalu seperti salesman,,,

memberikan banyak penawaran..

Banyak yang terlewatkan apabila kita tidak mendengar,
banyak yang terlupakan apabila kita tidak melihat,
dan banyak tawaran yang terabaikan bila kita tak punya tujuan.

Waktu yang terbuang akan memberikan pengaruh pada memori kita.
memori lama, akan terbungkus renda-renda kenarsisan diri, apabila tak segera mengisinya dengan memori baru.

Banyak
contoh yang terjadi, saat dalam suatu institusi, penghalang terbesar
yang dihadapi malah datang dari orang yang paling lama tinggal di situ.
Orang orang yang selalu cerita tentang kebanggaan masa lalu. Tak semua
orang lama seperti itu, orang-orang yang terus mendapatkan makna hidup
biasanya berlaku lebih bijak, berubah dari laskar-laskar siap mati
menjadi pengayom yang bijak..

Apa sih yang menyebabkannya.

Betapa orang tidak sadar
semakin lama ia semakin tak percaya lagi dengan informasi dari indera-inderanya.

Padahal dengan indera-indera itulah yang menghubungkannya dengan realita.
Lama
hidup sang senior membuat informasi-informasi lama menjadi tumpukan
memori di otaknya. Tumpukan itu kadang terangkai kembali menjadi
realita-realita semu, yang mensimulasikan sebuah kejadian baru seolah
mempunyai solusi dan template yang sama ala memori masa lalunya.
,,menyedihkan…sepertinya cocok juga saya namakan peristiwa ini sebagai VIRTUALMAPPING STIMULATION COMPLEX…(VSC)

tumpukan
memori ala subjektivitas semu ini bila terus dibangun akan menyebar
akut, seperti kanker yang merusak kemampuan indera-indera pembaca
realita kita..

Tak heran..apabila penyakit ini
dibiarkan…kemampuan mengolah masalah kita jadi minim, dan menjadi
safety zone member forever….yang berfungsi hanyalah syaraf-syaraf
tulang belakang dan otak-otak yang mulai overload..karena input
masalah-si penyakit VSC-dan solusi semu beraduk-aduk di kepala dan
berdenyut kencang…hiduppun laksana robot yang bergerak dengan voltase
yang semakin tinggi…hehe

kadang VSC ini seolah digambarkan
sebagai Mindset. Padahal ia hanyalah layaknya kumpulan benang kusut
yang berbentuk "seperti" otak.

Mindset sendiri tentu adalah
sebuah pola berfikir yang terbentuk dari rangkaian solusi akibat
benturan keras antara pemikiran dan masalah yang muncul di realita.
Tanpa solusi,tak akan lah si otak memiliki mindset yang jelas. Yang ada
hanya ketakutan dan phobia yang disebabkan VSC itu…

Berpikir
dan bersolusilah sampe tua, agar hidup terus berarti, karena masalah
terus berkembang dengan pattern-pattern yang indah ala teori fractal

Tak ada mindset yang salah saat kita merasa mampu mengimbangi masalah…

Pak
Bayu, dengan keputusannya, sedikit banyak telah merubah arti kemacetan
yang awalnya adalah sebuah suasana yang harus dirasakan, menjadi hanya
sekedar info kecil indera penglihatannya saja…Pak Bayu melenggang
terus menembus kemacetan kota,dan kemacetan pikiran….

fiuhh,….akhirnya berani juga saya menulis tulisan gila ini…maju terus urbanistis!

============
Akhirnya ketemu juga tulisan yang sedikit banyak seirama dengan tulisan ini:
Dari buku Pelatihan Shalat Khusu’ Karya Ustadz Abu Sangkan, hal 39:
Memorisasi
dianggap sebagai sebuah produk utama yang akan menunjang keberhasilan
seseorang di masa depan. Ini sudah menjadi semacam hukum tak tertulis
di masyarakat. Padahal memorisasi adalah sebuah produk mental dengan kadar yang terendah dan terhitung primitf.
Itulah
yang menurut Dr. Hidayat Nataatmaja sebagai penyakit cyber yang
menjadikan pikiran manusia modern berubah menjadi pikiran mekanis dan
digital (syariat termasuk kategori ini). Bahkan disebut sebagai HIV dan AIDS di dunia inteligensi/pikiran
Inteligensi manusia bisa lenyap karena virus itu, sehingga intelligence
nya mati dan diganti dengan artificial intelligence, rational
intelligence, yang tidak lait daripada digital intelligence. Orang
seperti ini mati perasaannya, tidak memiliki kehalusan budi, rasa
cintanya punah dan penampilannya kaku karena pikirannya ditimbang
dengan hukum hukum positif saja.

Hidup laksana Buah Khuldi

March 5th, 2008 by zakajekjon

hidup teh lucu
mungkin buah khuldi adalah hidup itu sendiri
Setan menyuruh Adam mengambilnya agar kita "dibuang" oleh Tuhan, dibuang kedalam ketidaktahuan yang membingungkan

Tuhan menyuruh kita hidup dalam analogi yang indah,
Khuldi2

selalu dalam bentuk yang mencerminkan ikatan Tuhan–kita–dan Setan yang ingin menjadikan kita terjebak dalam ketidak tahuan..

Andai Adam mengabaikan khuldi, maka Tuhan tak perlu marah padanya, dan sayangNya hanya akan ditunjukkan dengan keindahan

indahnya hidup, hanya terasa saat kita telah hidup
pahitnya hidup, hanya terasa saat kita melahap hidup kita sendiri,tanpa memaknai…

====
Semoga terhibur–jekiii

memanen status quo (?)

February 21st, 2008 by zakajekjon

duduk di pematang sawah pinggiran kota di senin pagi…
sengaja kubawa termos kecil berisi kopi buatan istri tercinta..
sambil kulihat petani mulai menyisir pinggiran sawah yang siap panen…Hm..Sepertinya panen memang sudah dimulai.

Sawah membentang, kurang lebih 5 hektar terbentang di depan…
Kulihat ada pohon kering yang tegak berdiri di petak tanah pertama… pohon itu berwarna coklat muda, karena kulit pohon coklat tuanya hampir terkoyak semua…

Terlihat petani mulai berhasil memotong berapa jumput padi lalu  dimasukkan ke dalam keranjang yang tergantung di punggungnya…  perlahan tapi pasti petani menyusuri sisian pematang, sebelum ke tengah dan membabat semua padi yang menguning…

Aku berandai-andai, apakah sang petani akan istirahat di tengah pohon kering di tengah itu… karena besarnya pohon yang bisa jadi sandaran untuk duduk-duduk..

Dua jam berlalu, padi sudah setengahnya terbabat, dan petani mulai mendekati pohon besar itu.

Dugaanku sedikit meleset. Petani memang berhenti di pohon itu. Namun dia hanya menyandarkan tangannya, tidak duduk bersandar sebari istirahat. Ditancapkan sabit pemotong itu di pohon. Tertancap cukup dalam, dan lengan petani itu seperti pegal. Lengannya di goyang goyang, dan jarinya di tekuk ke pohon besar itu…

Dugaanku sedikit meleset, namun ada benarnya juga. Pohon besar itu mempengaruhi kerja si petani. Dia  melambat. Aku yakin bila tak ada pohon, si petani akan terus membabat sehingga cepat lepas dari terik siang ini.

….

Quo

Lari dari info indera mataku..
Otak ku membayangkan hal lain… mulai beranalogi atas apa yang telah kulihat.

Pohon besar tadi sepertinya sudah lama tumbuh, dan memang susah dibabat…
Pohon tadi punya hak untuk tumbuh, dan menghabiskan waktu yang lama untuk tumbuh…
Semakin besar ia tumbuh, semakin dalam akarnya, semakin banyak ia menyerap air tanah, namun semakin jauh puncak rantingnya dari tanah…
Kesendiriannya yang megah diantara padi yang menghasilkan beras seolah bermakna ganda…
Satu hal dia adalah sebuah bentuk yang indah dilihat, satu hal lain dia adalah tempat bersandar orang-orang kelelahan, dan satu hal lain pohon besar itu menghambat cepatnya kerja petani mengetam padi…

Hari ini hari panen
Yang bisa dihasilkan padi adalah beras yang dimakan
yang dihasilkan pohon besar itu adalah batang besar untuk menyandar dan menyediakan tempat untuk  bacokan clurit saat petani melepas ketegangan tangannya….

pohon besar laksana status quo di masyarakat yang ingin produktif… mengurusnya laksana mengurus pohon bertuah yang katanya ada jin penunggunya..

Socialite goes to village (3-tamat)

February 20th, 2008 by zakajekjon

Terjebak….

Jaknitip_1

4 bulan berlalu… akhirnya berhasil melanjutkan tulisan mudik ini…
bukan berarti gagal menemukan makna baru pulang ke desa…
bukan juga desa Sukamulya semakin susah dimaknai…

tapi kesan terjebak lah yang memenuhi pikiran saat harus menulis tentang desa Sukamulya, desa kesayangan masa lalu…
Hal ini dimulai ketika pertanyaan-pertanyaan di kepala ku tanyakan lagi pada warga Sukamulya.
Apakah mereka menikmati  perubahan, apakah mereka ingin ke kota? masih betahkah mereka?. Semua merujuk pada jawaban yang sama… Semua sudah memiliki ketergantungan pada "kiriman" tren dari kota.
Semua seperti aliran sungai menuju muara… tenang namun kompak… sama-sama mengarah pada kesamaan…universalisme…

Apa artinya ciri khas pada desa…saat aura kebutuhan kota begitu menekan warga desa…  modernisme…membawa semua kedalam suasana yang universal…dan cenderung mengorbankan diri kita sebagai sosok konsumen, dan objek penderita….

genius loci*..yang semakin pudar di desa Suikamulya…
kini aku merasa di muara…bukan di mata air……
kini aku merasa terjebak di buih-buih rasa kota…
ah… mudik pun terasa hambar apabila melihat "rasa" desa saat ini…
namun tetap sangat bermakna saat kulihat tanah, daun, pepohonan..yang tumbuh di desa yang kebetulan masih dingin….
tak tau apabila nanti semua nya sepanas Jakarta…Mungkin yang tersisa hanya dedaunan kering …dan angin-angin tanpa arah….

Tadinya ingin kucari mata air…Tapi aku ternyata seolah pergi ke pantai….ingin kupecahkan saja gelas itu ditemani Dian Sastro…hehe..

*Membaca blog dibawah (atau di page sebelum ini) berjudul saat sang maharaja berpetuah... di situ si Maharaja berpetuah tentang setiap individu tentu memiliki ciri khas,dan itu seolah mata air- mata air yang mengalir menuju satu samudera…

maharaja berkata dengan kiasan….ciri khas dan nilai kelokalan bukanlah sebuah kelemahan..namun kekuatan kecil yang mampu menciptakan sungai-sungai  karya yang menginspirasi….

genius loci.. sebuah ungkapan yang jarang lagi diungkapkan….

socialite goes to village (2)

November 19th, 2007 by zakajekjon

Photo_1

Tiba sudah di desaku, Sukamulya…
oh Tuhan..Banyak perubahan yang terjadi di desa ini..
Sawah sawah yang tadinya terhampar di dataran sekeliling desa, kini berubah menjadi dataran rumah-rumah kontrakan pegawai pabrik. Pabrik-pabrik tekstil kini mengelilingi desa Sukamulya…serasa terkepung kepentingan kapitalis…

Perasaan ini sama ketika pemukiman kami di Jakarta dikepung oleh ITC-ITC yang menjual pakaian… namun di desa ini bukan tokonya yang mengepung, tapi pabriknya langsung….

Pelajaran tak henti untuk kami, bahwa kota bisa kalah dengan desa..Desa adalah tempat lahirnya nenek moyang kami. Kota hanyalah tempat kami mengadu nasib..
Desa adalah hulu dari sungai hirarki sejarah kehidupan kami….dan kebetulan saat ini, desa memiliki masalah yang sama dengan kota, sama-sama terkukung oleh komersialisme…  kami di kota dikepung oleh ITC yang seolah mengajak kami untuk berbelanja, berbelanja, dan berbelanja…sedangkan saat kami di desa, pabrik tekstil telah mengepung, menawarkan ribuan lowongan pekerjaan untuk para pengolah tanah agar beralih menjadi buruh pabrik..

Nilai-nilai awal dan akar kehidupan kami dapatkan di desa. Namun akar itu mungkin sudah banyak yang tercabut dan rusak. Bahwa memang kami dahulu lahir di desa ini, namun semuanya hanya bersisa di kepala dan mungkin sedikit bersisa pada nama kami yang berbau kedesa-desaan…

Tak terasa hari sudah sore…
Orang-orang mulai banyak berjalan ke arah lapangan di depan balai desa. Kutanyakan, ternyata sedang ada kampanye pilkades. Kali ini salah satu calon membawa artis dangdut kota kembang….

hehe..ku tersenyum. Teman-teman yang lain ikut tersenyum. Ternyata kata "kota" masih menjadi racun pemikat warga desa untuk soal hiburan. Aku jadi berpikir, bahwa matinya seni tradisional mungkin saja akibat paradigma ini. Orang desa tak lagi bangga pada kesenian yang mereka punyai. Apapun yang menarik selalu dari kota, desa sudah tak punya rasa percaya diri lagi untuk urusan produktivitas.
Bahkan pabrik-pabrik tekstil yang menyebarkan limbah ke tanah-tanah desa ini pun menjadi idola untuk tempat mencari kerja yang praktis. Lumbung-lumbung padi mulai kekurangan stok, karena petani malas menanam padi…orang desa sudah teracuni oleh komersialisme ala kota

Kami rombongan dari jakarta berjalan agak cepat ke rumah nenekku, karena hari sudah merambat gelap…Listrik jalanan yang masi disuplai oleh kincir air di mata air desa mulai menyala. Suasana terasa sendu…Dengan sinar kekuningan dari lampu jalanan membuat suasana yang serba menguning…benar-benar nikmat untuk dilalui…benar-benar suasana pedesaan..